Banua Mayana Waira

jejak kata dan sisi lain blogger perempuan dari buton tengah

facebook twitter instagram youtube
  • Home
  • About Me
  • Another Blog
    • First Blog
    • Second Blog
  • Disclosure

 


Akhir tahun lalu, saya check out TTS (Teka Teki Silang - red) di toko orens. Entah mengapa, saya kangen isi TTS sebagai perintang waktu. Saya pengen mengulang melakukan hal yang dulunya saya suka banget ini agar otak yang rasanya udah males diajak mikir ini bisa bekerja lagi, hahaha 😂

Selain itu, saya pengen sedikit rehat dari ketergantungan terhadap smartphone yang rasanya semakin hari semakin tinggi dan susah dikendalikan. Akhir-akhir ini, semakin banyak waktu yang saya habiskan untuk buka handphone scrolling medsos. Berjam-jam dalam sehari saya pakai untuk melakukan hal unfaedah itu hingga ngaruh ke kesehatan saya. 

Karena keseringan natap layar handphone, tulang alis terasa sakit, saya juga jadi sering sakit kepala. Awalnya saya gak ngeh bahwa sering munculnya sakit kepala itu dikarenakan sering buka handphone, nantilah setelah curhat pada salah satu rekan di kantor, saya dapat jawabannya. Menurut rekan tersebut, bisa jadi yang saya rasakan itu akibat dari keseringan natap layar hape karena ia pun mengalami hal serupa. Katanya, ia selalu merasa pusing dan sakit kepala kalo kelamaan natap layar hape.

Lalu saya pun berusaha mulai mengurangi intensitas membuka hape. Lah kok bener, setelah beberapa jam gak buka handphone rasa sakit di tulang alis perlahan berkurang. Setelah saya terusin kok jadi enakan. Maka saya pun mengamini bahwa benar, sakit tulang alis dan sakit kepala yang saya rasakan itu karena kebanyakan nonton hape

Tapi bagaimana caranya agar bisa mengalihkan kebiasaan yang udah bertahun-tahun saya lakukan itu? Awalnya saya berpikir untuk berkebun menanam sayuran di pekarangan belakang rumah. Saya yakin, dengan berkebun pasti akan mengurangi intensitas memegang handphone, namun kemudian saya sadar gak mungkin bisa melakukan itu karena rumah kami belum dipagar. Kalo saya berkebun, sapi dan kambing (yang entah siapa pemiliknya) akan berpesta pora menikmati tanaman saya, huhuhu 😓

Dan tiba-tiba saya kepikiran untuk isi TTS. Tanpa menunggu lama, mulailah saya mencari penjual TTS di pasar. Sayangnya di Kabupaten Buton Tengah ini udah gak ada yang jual TTS. Sepertinya hanya ada di Baubau yang jual, namun daripada repot-repot ke sana dengan menghabiskan waktu, tenaga dan uang, kayaknya mending beli di toko orens aja deh, hahaha. Saat itu juga langsung co 20 buku TTS 😄


Setelah menunggu beberapa hari, tibalah paket berisi 20 buku TTS yang saya pesan itu. Saya langsung buka dan isi TTSnya saat itu juga. Dan coba tebak apa yang terjadi? Tanpa saya sadari, mata ini langsung berkaca-kaca dong. Entah mengapa, kenangan saat isi TTS di masa lalu muncul satu persatu.

Saat masih sekolah, mengisi TTS adalah salah satu hal yang sangat menyenangkan selain membaca buku yang saya pinjam dari perpustakaan atau majalah yang saya pinjam dari teman. Dulu, minimal dua buku TTS yang saya beli setiap bulan. Saya sisihkan uang jajan untuk membelinya dan kemudian mengisinya saat pulang sekolah. Rasanya bahagiaaa banget melihat kotak-kotak yang saling bersambung itu terisi jawaban. Ada kepuasan batin saat menjawab dengan benar atas pertanyaan yang diberikan. Kalo gak salah ingat, saya udah mengisi TTS sejak kelas 3 SMP.

Saya ingat, saat cuti hamil dan melahirkan anak pertama, saya sempat dilanda stress. Iyaa, saya stress karena kelamaan cuti. Rasanya bosan banget tinggal di rumah selama itu. Saat anak tidur, saya bingung harus ngapain. Mau tidur kok malas, sedangkan kalo mau internetan saat itu jaringan internet di tempat kami masih timbul tenggelam. Sosmed juga belum se-booming sekarang dan tentu saja karena keterbatasan kuota internet saya hanya bisa membuka sosmed sesekali saja yakni pada tengah malam. Selain karena jaringan internet agak mendingan di jam segitu juga biar lebih hemat, hahaha 😅. Kala itu, TTS -lah yang menjadi penyelamat jiwa ini dari rasa stres dan akhirnya bisa enjoy menghabiskan masa cuti hingga tiba saatnya ngantor kembali. 


Mungkin teman-teman ada yang bertanya, "Apa sih yang membuat saya suka TTS?" Hmmm apa yaa? Kalo gak salah ingat, kesukaan saya pada TTS dimulai saat berlibur di rumah Naina (nenek). Saat ngubek-ngubek buku-buku cerita yang disimpan Iyma (kakak mama) di atas lemari, ketemulah saya dengan sebuah buku TTS usang, sepertinya itu punya papa. Iyma memang punya kebiasaan suka menyimpan buku-buku di atas lemari. Saya yang saat itu hobby membaca, langsung penasaran melihat buku yang sampulnya agak unik dan berbeda dari buku lainnya itu. Setelah dibuka, saya mulai memahami bahwa itu bukan buku bacaan melainkan buku yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya ada di kolom-kolom yang diberi nomor.

Saya pun penasaran. Mencoba menjawab pertanyaan yang ada dan mencocokannya dengan jawaban yang tertera di kolom-kolom bernomor itu. Rasanya senaaang banget saat tahu jawaban saya sama seperti yang tertulis di dalam kolom (yang telah diisi papa). Lalu mulailah saya mencoba mengisi kolom-kolom yang belum terjawab dan akhirnya semakin pengen untuk beli bukunya.

Sejak saat itu, saya mulai menyukai TTS. TTS sangat membantu memperbanyak kosa kata sinonim yang saya pelajari di sekolah. Rasanya bangga banget saat lebih dulu mengetahui sinonim dari sebuah kata yang ditanyakan guru dibanding teman-teman yang lain 🤩

Karena sering melihat kakaknya isi TTS, akhirnya adik-adik saya pun jadi ikutan suka juga pada TTS. Mereka yang awalnya hanya mengisi buku TTS bekas saya, akhirnya tertarik untuk beli buku sendiri dan mengisinya. Hasilnya? Mereka lebih jago menjawab pertanyaan dibanding kakaknya ini 😂

Kini, setelah mulai rutin mengisi TTS lagi, intensitas scrolling medsos udah sangat jauh berkurang. Sakit tulang alis dan sakit kepala pun rasanya semakin jarang. Semoga kebiasaan baik ini bisa terus terjaga, apalagi sekarang ada niatan untuk kembali serius ngeblog, semoga makin jarang deh scroll medsos dan ecommerce (biar makin gak sering check out barang-barang lucu tapi gak penting juga). Ayooo semangat, Ira! 💪

Share
Tweet
Pin
Share
14 Comments

 

"Dejavu adalah perasaan atau pengalaman bahwa sesuatu yang sedang terjadi saat ini (padahal sebenarnya belum pernah terjadi atau baru pertama kali dialami) terasa familiar atau sudah pernah terjadi sebelumnya"


Sebenarnya agak bingung mau kasih judul apa untuk tulisan ini. Agak berat untuk menuliskannya karena cukup menguras emosi, namun kok pengen juga ikut nimbrung tentang ini. Saat menulisnya, saya harus menghela nafas berkali-kali, mencoba merangkai kembali memory yang hampir terlupa namun kemudian perlahan-lahan muncul karena adanya berita viral yang serupa.

Saat melihat gambar ibu dan anak di atas, teman-teman mungkin udah bisa menebak saya akan menulis tentang apa. Yap, tebakan teman-teman benar, yang akan saya tuliskan adalah tentang berita duka yang menimpa empat anak balita yang meninggal terbakar di rumahnya dikarenakan ditinggal ibunya pergi beli makanan hingga tiga jam lamanya.

Saya gak akan menghakimi si ibu. Saya udah cukup kenyang melihat dan membaca ratusan komentar netijyen maha sempurna yang mengutuk perbuatan si ibu yang memang salah banget meninggalkan anak-anaknya yang masih sekecil itu di dalam rumah tanpa pengawasan orang dewasa di banyak platform sosial media. Sungguh, hati saya sedih banget melihat begitu banyaknya berita duka ini di-share sehingga membangkitkan kembali ingatan pedih yang saya pikir udah terlupa namun ternyata masih tersimpan di ingatan.

Saya juga gak akan menuliskan opini dan pendapat saya terkait tindakan ibu korban dan juga gak akan mempertanyakan kemana ayah anak-anak malang itu (walau hati saya tetap berontak ingin tahu keberadaannya). Kok bisa ibu dengan usia semuda itu harus merawat cukup banyak anak yang masih kecil-kecil tanpa ayah anak-anak di sampingnya 😔

Dan karena judul tulisan ini adalah "Bukan Dejavu", maka yang akan saya ceritakan pada tulisan ini adalah bahwa puluhan tahun silam, kejadian serupa pernah terjadi. Dan sedihnya, itu dialami oleh tetangga yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah kami. Saya lupa kapan persis kejadiannya, yang saya ingat itu terjadi pada tahun 2000-an karena saat itu saya udah SMA (tapi lupa saya kelas berapa).

Ceritanya hampir mirip. Anak-anak ditinggalkan oleh ibunya di dalam rumah dan terjadilah kejadian nahas itu. Bedanya, dulu si ibu mengunci anaknya di dalam kamar bukan untuk membeli makanan melainkan untuk nonton sinetron ke rumah tetangga (saat itu, belum semua rumah punya televisi, jadi masih sangat lumrah bila orang-orang pergi menonton televisi di rumah tetangganya, termasuk kami).

Malam yang tenang tiba-tiba menjadi heboh lantaran munculnya kobaran api dari sebuah rumah lantai dua. Kami yang sedang asyik nonton sinetron Bidadari di rumah tetangga langsung keluar dan berkumpul. Sebagian ada yang menuju TKP, sebagian lagi pulang ke rumah masing-masing mengamankan barang berharga, takut kobaran api tak terkendali dan kemudian menjalar ke rumah lain.

Saya dan beberapa teman bergerak menuju TKP dan sesampainya di sana kami menyaksikan kobaran api yang udah sangat besar. Api dengan ganasnya membakar habis rumah dua lantai yang sebagian besar bangunannya terbuat dari kayu itu. Di tengah kobaran api, terdengar bunyi ledakan yang sangat besar (huhuhu di situlah saya mendengar bahwa sebenarnya di dalam rumah yang terbakar itu ada tiga orang anak yang terkunci di dalam kamar, Ya Allah saya langsung lemas 😭). Saya langsung merasa ngeri dan ketakutan. Seketika saya langsung pulang ke rumah karena gak tahan berlama-lama di TKP.

Entah jam berapa api berhasil dipadamkan. Menurut info, ibunya menangis meraung-raung dan beberapa kali pingsan mengetahui ketiga buah hatinya meninggal karena keteledorannya. Niatnya mengunci anaknya di dalam kamar agar anaknya segera tidur namun siapa yang menyangka ternyata ketiganya masih ingin bermain dan sialnya mainan yang mereka mainkan mengenai lampu minyak yang menjadi alat penerangan di dalam kamar tersebut. Ditengarai, lampu minyak inilah penyebab kebakaran terjadi. Lampunya tersenggol, minyaknya tertumpah dan mengenai benda yang mudah terbakar dan duaaarrr terjadilah hal mengerikan itu 😭

Akibat kejadian itu, saya diserang ketakutan setiap hari selama beberapa waktu. Saya takut masuk ke dalam kamar sendirian. Saya merasa pengap dan susah bernapas saat lampu kamar dipadamkan. Bunyi ledakan yang saya dengar di tengah kobaran api itu selalu datang menghantui, huhuhu 😭. Saya yang biasanya selalu lewat di belakang TKP setiap kali ke sekolah, mulai mencari jalan lain. Gak sanggup rasanya melihat rumah yang tersisa puing-puing itu 😢 

Ketakutan itu baru perlahan-lahan menghilang saat saya meninggalkan kampung halaman dan pergi merantau untuk kuliah.

---


Duh, maafkan karena memilih menulis ini sebagai artikel comeback setelah beberapa bulan gak nulis 🙏. Entah mengapa, melihat berita menyedihkan itu berseliweran di beranda sosmed, menuntun saya untuk membuka dashboard blog ini untuk menulis kisah serupa.

Semoga terpublishnya artikel ini menjadi pertanda aktifnya kembali saya menjadi blogger 💪

Share
Tweet
Pin
Share
10 Comments

Lama gak posting rangkuman kegiatan harian dalam a day in my life. Dan mumpung hari ini adalah hari yang lumayan berkesan dan sangat menyenangkan, udah selayaknya diabadikan dalam sebuah artikel biar nanti bisa dibaca kapan-kapan di lain hari, hehehe 😄

Hari ini adalah hari yang sangat berkesan bagi saya dan rekan-rekan di kantor. Setelah berbulan-bulan menunggu dan beberapa kali tertunda, akhirnya hari ini terlaksana jua acara "Temu Kangen Dinas Pangan bersama Bapak Drs. H. Burhanuddin" yang mana beliau adalah Kepala Dinas Pangan Kabupaten Buton Tengah yang telah purnabakti akhir Maret lalu.

Acara hari ini adalah acara perpisahan kami dengan beliau. Seyogyanya, acara ini dilaksanakan sesaat sebelum atau sesaat setelah beliau purnabakti, namun karena sesuatu dan lain hal, akhirnya acara yang telah diagendakan pun harus diundur terus. Alhamdulillah, akhirnya hari ini terlaksana juga kegiatan yang udah lama direncanakan ini. Dan tempat yang kami pilih adalah Pantai Nirwana di Kota Baubau.

Baca Juga: A Day In My Life; Selasa 07/05/2024

Hari ini saya bangun lumayan pagi dan langsung beraktivitas, cuci piring, cuci baju, siapin sarapan Rayyan. Selesai semua itu, saya pun sarapan lalu siap-siap ke kantor karena saya janjian bertemu dengan pak kepala bidang distribusi dan cadangan pangan di kantor pukul 08.00 WITA. Rencananya, saya dan bapak akan berboncengan naik motor menuju pelabuhan wamengkoli dan naik kapal feri menuju Baubau. Namun saat kami berdua udah di kantor dan siap-siap berangkat, Pak Plt. Kepala Dinas menelpon dan meminta kami menunggu agar bisa jalan bersama-sama beliau naik mobil dinas. 

Sembari menunggu Pak Plt. Kadis tiba di kantor, saya balik dulu ke rumah untuk menjemur pakaian yang masih ada dalam mesin cuci. Saya juga ngobrol-ngobrol santai dengan suami. Saya agak canggung berduaan dengan pak kabid di kantor, jadi mumpung jarak rumah dan kantor hanya sepelemparan batu, saya putuskan untuk pulang ke rumah aja 😃

Setelah kurang lebih satu jam menunggu, akhirnya pak Plt tiba di kantor dan kami pun langsung otw Pelabuhan Wamengkoli dan menyeberang ke Baubau. Pukul 12.00 WITA semua personil Dinas Pangan telah berkumpul di Pantai Nirwana. Beberapa pensiunan Dinas Pangan yang diundang juga udah hadir dan gak lama kemudian Bapak Burhanuddin bersama keluarga juga tiba di tempat.

Sebagian wanita sibuk menyiapkan konsumsi yang telah dibawa dari rumah rekan-rekan yang tinggal di Baubau, sebagian lelaki sibuk bakar-bakar ikan dan ayam sedangkan sebagian lainnya sedang sibuk menyiapkan acara yang sebentar lagi dimulai.



Pukul 12.30 WITA, acara pun dimulai. Diawali dengan pembukaan oleh MC yang tak lain adalah kepala bidang ketersediaan dan kerawanan pangan, Ibu Sarsina. Dilanjutkan dengan sepatah kata dari Bapak Plt. Dinas Pangan dan kemudian kami mendengarkan sambutan dan wejangan dari Bapak Kepala Dinas yang telah purnabakti. Beliau memberikan banyak nasehat dan wejangan terkait apa yang sebaiknya dilakukan dalam sebuah organisasi. Bapak juga memberi tips menjadi ASN yang baik bagi teman-teman honorer khususnya yang mendaftar CPNS dan PPPK tahun ini. Sungguh nasehat yang sangat berguna bagi kami, terutama bagi kami staf yang masih memiliki perjalanan karir yang panjang.

Sesi berikutnya adalah penyerahan cenderamata dari Dinas Pangan, dari masing-masing bidang dan dari pribadi/kelompok staf kepada Bapak Burhanuddin. Setelah itu dilanjutkan dengan makan siang.


hadiahnya kecil, tapi semoga bermanfaat buat Bapak 😁

Usai makan siang acara masih berlanjut yakni games atau lomba yang telah disiapkan panitia diantaranya lomba joget, lomba memasukkan kelereng di dalam botol, lomba tebak kata dan beberapa lomba lain yang sayangnya sebagian dari kami gak bisa mengikutinya (termasuk saya) karena harus balik ke Buton Tengah. Kami harus pulang naik kapal feri jam 16.00 Wita untuk menghindari kemalaman di jalan karena waktu tempuh untuk balik ke rumah masing-masing lumayan lama.

Pukul 18.00 Wita saya tiba di rumah dan langsung mandi. Setelah itu makan malam, skincare-an dan siap-siap istirahat. Sayangnya, walau badan ini udah lelah dan mata ini udah ngantuk tapi saya gak bisa terlelap juga. Pikiran saya kemana-mana dan akhirnya saya putuskan untuk mengabadikan momen hari ini lewat tulisan ini. Semoga aja setelah publish artikel ini saya bisa terlelap dan bangun dengan kondisi fit besok pagi.

Baca Juga: Kebiasaan yang Kurang Baik Bagi Kulit

Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin mengucapkan Selamat menikmati masa purnabakti, Pak. Selamat menikmati waktu bersama keluarga tercinta. Sehat selalu dan tetap produktif mengisi keseharian. Terimakasih telah menjadi atasan yang bijaksana, atasan yang memberi tauladan, atasan yang tegas, disiplin dan berlaku adil terhadap semua staf dan bawahan Bapak. Terimakasih atas semuanya, semoga kita bisa kembali bertemu dan bersendagurau seperti hari ini 🙏

Satu lagi, buat teman-teman yang saat ini sedang berjuang melamar kerja baik di perusahaan maupun di pemerintahan, bolehlah menerapkan tips melamar kerja dari shinbi house.

Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Pada dasarnya saya adalah orang yang susah melupakan sesuatu, khususnya dalam perkara asmara, ahahay 😛. Saat memutuskan untuk jatuh cinta, saya akan bucin dan susah melepaskan orang yang saya cintai itu. Dan mungkin karena itulah, sebelum menikah saya gak punya banyak mantan. Mantan pacar saya hanya 2 orang dan 1 orang lagi adalah cidaha alias cinta dalam hati alias cinta yang gak pernah terungkap sampai saat ini dan kemungkinan orang yang saya taksir itu gak pernah tahu kalo saya menaruh hati padanya, hahaha 🙈

Saya ingat, saat pertama kali pacaran saya menyerahkan hati saya seutuhnya. Ckckck, padahal saat itu masih kelas 2 SMA, hahaha 🤦‍♀️. Kami pacaran hanya 6 bulan namun butuh waktu bertahun-tahun untuk melupakannya. Cinta monyet masa remaja yang sangat berkesan, yang rasanya lucu juga jika diingat saat ini.

Setelah putus dengan my first love tersebut, ada beberapa yang berusaha "mendekat" namun hati saya seperti mati. Saya tolak secara halus dan berterus terang kepada mereka bahwa saya masih mencintai mantan dan mengharapkannya kembali. Iyaa, saya memang sebucin itu, hahaha 🙈. Seandainya ada penulis lepas yang ingin menulis buku tentang perempuan setia dan susah move on dari masa lalu, sepertinya saya bersedia jadi nara sumber yang diambil kisahnya 🤣

Hati saya baru terbuka dan mau menerima orang baru saat ada seseorang yang entah mengapa saat tanpa sengaja memandangnya hati saya merasa tenang dan.... berdebar. Iyaa, kalian gak salah baca, jantung saya berdebar padahal saat itu kami baru pertama kali berjumpa dan sialnya, ternyata kami tinggal di rumah kost yang sama. Doi inilah yang menjadi cinta dalam hati saya 🙈

Doi yang saya taksir adalah sosok pendiam. Yang bikin saya suka selain rasa tenang dan berdebar di saat pertama kali berjumpa, adalah sifat pendiam dan kecerdasannya. Diam-diam, tanpa diketahui olehnya saya menaruh hati. Rasa suka pada si lelaki pendiam ini lambat laun membuat perasaan saya kepada si cinta pertama memudar.

Lega rasanya bisa melupakan si mantan, namun hati saya kembali berjuang karena si pendiam ini bukanlah sosok yang mau berpacaran (saya tahu tentang ini dari sahabatnya). Baginya, pacaran adalah perbuatan sia-sia dan dia gak mau membuang-buang energi untuk melakukannya. Jadilah perasaan saya bertepuk sebelah tangan dan terpendam dalam hati aja. Saya takut mengungkapkan rasa, selain karena tabu juga karena udah tahu pasti ditolak, huhuhu 😢

Bertahun-tahun berlalu dan tibalah saat ini, di mana usia saya udah gak muda lagi dan saya pun udah menikah dan punya anak. Bagaimana perasaan saya ketika bertemu mantan dan si lelaki pendiam yang dulunya sangat saya cintai itu? Hmmmm, rasanya biasa aja. Yang ada, saya malah merasa malu ketika mengingat masa-masa bucin dulu 😛

Baca Juga: Saya Pelupa

Setelah melewati jatuh bangun mencintai dan susah melupakan, kini saya sadar bahwa semua rasa yang dulunya WOW itu, pada akhirnya akan terasa biasa aja. Kini saya bisa ngobrol santai dengan mantan layaknya ngobrol dengan teman-teman yang lain. Padahal bila mengingat masa-masa bucin dulu, sepertinya saya gak akan pernah bisa seperti ini.

Mungkinkah karena saat ini saya udah menemukan sosok yang tepat untuk saya cintai selamanya? Cinta pada suami dan anak-anak yang begitu besar sehingga gak ada lagi celah di hati saya untuk orang lain 😍. Belum lagi saat ini kesibukan makin padat jadi udah gak ada tenaga mikirin hal remeh.

Kini saya sadar, ternyata bukan cuman bucin aja yang memudar tapi rasa benci pun sama. Sebenci apapun kita pada seseorang di masa lalu, waktu bisa mengikis rasa benci itu. Dulu, ada seseorang yang saya benci karena suka membully saya. Bertahun-tahun saya selalu menghindar bertemu dengannya karena saat bertemu bukan hanya rasa sakit melainkan rasa benci juga.

Namun siapa sangka, setelah sekian lama gak pernah bertemu, beberapa waktu lalu Tuhan mempertemukan kami. Surprisingly, saya gak lagi merasakan kebencian itu. Hal yang saya takutkan gak terjadi, malahan saya bisa mengajaknya ngobrol santai layaknya teman lama yang baru ketemu. Saya akui, saya memang belum bisa melupakan perlakuan buruknya di masa lalu tapi rasa benci saya kepadanya udah menghilang. Alhamdulillah.

Rupanya memang benar, gak ada yang abadi di dunia ini termasuk rasa yang awalnya kita pikir sangat luar biasa. Saya yang dasarnya susah melupakan sesuatu, seiring berjalannya waktu ternyata bisa move on juga. Kini, nalar saya udah jalan sehingga selalu berpikir logis dan gak mudah lagi diperdaya perasaan sendirii 😂

Share
Tweet
Pin
Share
No Comments



Siapakah di sini yang punya kebiasaan menghayal? Bila pertanyaan itu diajukan maka saya akan langsung unjuk tangan dan menjawab bahwa saya adalah orang yang suka menghayal. Sejak kecil, menghayal menjadi kebiasaan menyenangkan yang rutin saya lakukan sebelum tidur. Entah mengapa, dulu saya gak bakalan bisa tidur bila belum menghayal. Saya bingung, apakah ini kebiasaan baik atau malah sebaliknya? Hmmm.. 🤔

Lalu apa aja yang jadi bahan hayalan saya? Jawabannya adalah banyak hal. Dan karena saya sadar itu adalah hayalan, jadi tentu aja hal yang manis dan indah dong yaa, hahaha 😄. Saking banyaknya hal yang saya hayalkan, saya bahkan udah lupa apa aja yang dulu pernah saya hayalkan namun yang sulit terlupa karena sangat berkesan adalah saya suka menghayal punya pacar tampan idola banyak wanita. Hahaha, dulu saya memang selebay itu 🙈😄. Maklumlah gaes, sebelum negara api menyerang, saya juga penyuka sinetron dan drama. Dulu, saya bahkan bisa memberi tahu rekomendasi drama seri favorit yang sedang in dan digemari. 

Kebiasaan menghayal masih berlanjut hingga saya selesai kuliah (masa-masa nganggur). Menghayal menjadi teman yang menghibur ketika saya gak kunjung mendapatkan pekerjaan. Menghayal juga membuat saya lupa pada rasa sedih karena putus cinta. Menghayal menjadi semacam terapi yang membuat saya tetap "waras" saat keadaan sedang gak baik-baik aja.

Kebiasaan menghayal baru sedikit berkurang setelah saya mulai bekerja. Rupaya kesibukan di kantor lumayan menyita waktu hingga membuat saya lelah dan langsung tidur begitu merebahkan kepala di bantal pada malam hari. Tapi ini hanya sementara karena gak lama kemudian, kebiasaan menghayal itu kembali rutin saya lakukan.

Lalu apakah semua hayalan saya terwujud? Jawabannya jelas gak lah yaa. Ada beberapa hayalan absurd yang memang cukup jadi hayalan aja, gak perlu-perlu banget jadi kenyataan, namun ada juga hayalan yang terwujud. Tapi ada satu hayalan absurd yang terwujud loh yaitu hayalan punya pacar idola banyak cewek, walau waktu pacarannya gak lama, hahaha. Dan si doi itulah my first love, ahahahay 😝

Bagi saya, selain menyenangkan, menghayal menjadi obat penawar saat saya jatuh dan terpuruk karena putus cinta. Mau curhat sama teman rasanya malu karena harus mengungkapkan kebucinan saya, belum lagi sahabat yang mau saya curhati ini ternyata juga punya masalah yang lumayan pelik, rasanya gak tega bila dalam keadaan seperti itu masih harus saya bebani dengan curhat tentang masalah saya yang mungkin gak ada seujung kuku dari masalahnya.

Lagi pula, menghayal itu gratis dan bisa dilakukan di mana aja (walau tentu saya paling sering melakukannya di kamar saat hendak tidur) tanpa perlu mengeluarkan effort yang besar, tiba-tiba jiwa jadi lebih semangat, hehehe. Murah, praktis dan gak perlu menahan malu karena gak akan ada yang tahu. Sungguh solusi brilian untuk orang introvert seperti saya.

Lalu apakah kebiasaan menghayal ini masih saya tekuni sampai saat ini? Jawabannya adalah iya, tapi frekuensinya udah sangat jauh berkurang. Hayalan yang saya tahu gak mungkin jadi nyata yang sampe sekarang masih sering terlintas di benak saya adalah saya melihat senyum bahagia papa ketika melihat anak-anaknya telah berhasil mewujudkan mimpinya. Saya berhayal papa sering datang berkunjung dan nginap di rumah saya dan melakukan hobby-nya menanam sayur dan buah-buahan di halaman belakang rumah saya. Ahh walau saya tahu itu gak mungkin jadi nyata tapi setiap kali menghayalkan itu saya pasti bahagia. Alfatihah buat Papa 🤲

Hayalan saya yang lain adalah membayangkan semua cita-cita kami menjadi nyata, misalnya bisa jalan-jalan ke luar negeri sekeluarga, liburan bersama suami ke Bali, Lombok, Raja Ampat dan tempat-tempat indah lain di Indonesia, umroh atau haji sekeluarga dan beberapa hal yang indah-indah lainnya. Semoga hayalan atau lebih tepat bila disebut cita-cita ini bisa terwujud di saat yang tepat, amiiin yaa Allah 🤲

Baca Juga: Saat Mimpi Tak Dapat Diraih

Saya gak tahu kapan kebiasaan menghayal ini akan hilang karena saya memang gak punya rencana untuk menghilangkannya. Saya suka dan gak pernah merasa bosan melakukannya, hehehe 🙈. Bagaimana mungkin saya berhenti melakukan hal yang saya sukai?

Tapi ngomong-ngomong, kayaknya seru yaa kalo dibuat film dengan tema hobby menghayal ini. Kalo ada, saya pasti bakalan nonton filmnya, hehehe. Atau udah pernah ada film maker indonesia yang bikin film dengan tema ini? Tolong kasih tahu judul fimnya dong kalo ada, gak cuman film Indonesia aja, film dari negara lain juga gak papa asal temanya sama 😁

Share
Tweet
Pin
Share
No Comments






Alhamdulillah, di usianya yang ke-3 tahun kurang enam hari akhirnya blog ini bisa menghasilkan 100 artikel juga, yeay! 🎉. Jujur aja, saya bangga dengan diri sendiri karena di tengah kemalasan akut yang udah melanda selama bertahun-tahun saya ternyata masih mampu menghasilkan 100 artikel receh nir faedah di blog yang udah banyak sarang laba-labanya ini 😂

Baca Juga: Blog Baru Lagi

Sebenarnya agak malu menuliskan hal ini karena bila dibandingkan dengan blog lain yang seumuran, pencapaian jumlah artikel blog ini udah pasti tertinggal jauh, namun saya menuliskan ini bukan untuk membuat perbandingan. Saya menulis ini sebagai bentuk rasa syukur dan apresiasi terhadap diri sendiri. Di tengah kemalasan akut yang menyerang saya, ternyata saya masih mampu menulis, huhuhu sungguh ku terharu 😳 

Jujur aja, bisa mencapai artikel sebanyak ini gak pernah terbayangkan sebelumnya. Makanya ketika berada di posisi ini saya nyaris gak percaya. Saat membuka dashboard blog dan melihat jumlah artikel yang terpublish udah 99, saya langsung terkejut dan gak percaya namun kemudian buru-buru menulis artikel ini agar jumlahnya genap 100.

Lalu ingatan saya mulai mundur ke belakang. Saya ingat, tujuan awal membuat blog ini adalah untuk menjalin silaturahmi dengan teman blogger yang tersebar di seluruh Indonesia, mulai dari blogger Sulawesi seperti saya, Blogger Surabaya, Blogger Kalimantan, blogger dari Sumatera hingga blogger Papua dan tentu saja teman blogger yang tersebar di seluruh pulau jawa.

Baca juga: Lama Hiatus Kemana Aja?

Saya juga ingat, tahun lalu saya udah bertekad untuk semangat dan pengen konsisten mengisi blog ini dan dua blog yang lain, saking semangatnya saya sampe buatin kalender ngeblog agar semua blog bisa terisi dengan baik namun faktanya, di bulan Maret keluarga kami dilanda ujian yang nyaris gak bisa kami lalui yang akhirnya membuat saya kembali ke titik nol. Ujian yang rasanya sampe hari ini masih membuat saya sedih dan gak ikhlas menjalaninya. Sampe saat ini saya belum sanggup menuliskannya di blog karena rasanya terlalu berat dan sakit. Insyaallah kalo udah siap, mungkin akan saya tuliskan di blog, tapi belum tahu kapan waktunya.

Yaa, setelah melalui ujian itu, akhirnya saya sadar bahwa manusia hanya bisa berencana dan Tuhan jualah yang akan menentukan mana yang terbaik untuk hamba-Nya. Kini saya hanya bisa berharap semoga semangat saya bisa kembali lagi seperti dulu, semangat ngeblog dan rajin blogwalking lagi agar saya gak malu menyebut diri blogger. Jujur aja, dua tahun terakhir saya sebenarnya malu menyebut diri blogger karena merasa gak maksimal mengisi blog.

Tapi, saya gak ingin terlalu larut dalam kesedihan. Saya harus bangkit dan mulai menulis lagi walau tulisan yang saya hasilkan itu banyakan tulisan receh yang unfaedah. Semoga dengan mulai menulis lagi, rasa sedih yang saya rasakan sejak Maret tahun lalu bisa perlahan-lahan terobati dan berganti dengan kebahagiaan. Mungkin saya harus lebih banyak membaca dan blogwalking agar mendapat ide tulisan di blog ini.

Di pertengahan tahun ini, saya ingin mulai konsisten menulis lagi agar nanti bisa menghasilkan banyak artikel sehingga saya bisa menelurkan artikel ke-200, ke-300 dan seterusnya di blog ini. Ayoo Ira, kamu pasti bisa! 💪

Sebelum mengakhiri artikel ini, saya pengen bilang pada diri sendiri. 

Terimakasih, karena udah bertahan di tengah kesedihan, Ira. Kamu adalah wanita kuat. Jika ingin bersedih, bersedihlah namun tetap ingat untuk bangkit dan melakukan yang terbaik. Ketahuilah, rasa sedih, frustasi dan terpuruk adalah hal biasa yang juga dirasakan manusia lain tapi jangan larut terlalu dalam. Sekarang mungkin udah saatnya bangkit, melangkah dan mulai memperbaiki semuanya. Dan untuk rasa malas yang juga udah terlalu lama bergelayut, mungkin udah saatnya dihempas manja. Ayoo mulai semuanya dengan semangat baru 💪🏻


Akhir kata, selamat yaa, Ira. Blogmu ini akhirnya bisa menghasilkan 100 artikel. Semoga setelah ini blog ini akan menghasilkan banyak artikel lain yang tidak hanya berisi curahan hatimu namun juga artikel yang bermanfaat  untuk orang lain. Fighting, Ira! 💪🏻


Share
Tweet
Pin
Share
No Comments

Yuhuiii kembali lagi dengan tulisan tentang thrifting, hahaha. Artikel ini adalah lanjutan dari artikel tempo hari. Di artikel itu saya bilang akan menuliskan kekurangan beli barang thrift, namun kali ini saya gak hanya akan menulis kekurangannya aja tapi masih ditambah lagi dengan tips-tips yang saya terapkan saat membeli barang thrift agar mendapatkan barang yang bagus, berkualitas namun dengan harga murah.

Baiklah, untuk mempersingkat waktu (tsah 😅) kita masuk saja pada topik pertama yakni kekurangan membeli barang thrift. Apa sajakah itu? Beberapa kekurangan beli barang thrift yang saya rasakan adalah:

👉 Tampilan barangnya tidak 100% seperti yang kita mau (seperti barang baru)

Namanya juga barang bekas, pasti ada bekas pakai dari pemilik terdahulu jadi kita gak boleh berharap barangnya memiliki kualitas 100% seperti yang kita mau. Sebagus-bagusnya barang thrift, pasti ada minusnya, bahkan yang masih ada tag-nya sekalipun, bila diperhatikan dengan seksama, pasti ada aja kekurangannya, entah warnanya mulai pudar atau ada reject misal bolong atau noda setitik.

👉 Butuh effort yang lebih besar sebelum memakainya

Setelah membeli baju thrift, ada banyak langkah yang harus dilakukan sebelum memakaianya dibanding saat membeli baju baru.  Bila membeli baju/pakaian baru, sebelum dipakai, kita cukup mencuci dengan cara merendam dan dikucek-kucek manja atau langsung dimasukkan ke mesin cuci lalu disetrika dan langsung dipakai. Sangat berbeda saat kita membeli pakaian thrift, sebelum dipakai, kita wajib merendamnya dengan air panas terlebih dahulu supaya kuman-kumannya mati, dipakaikan penghilang noda lalu diteruskan dengan mencucinya seperti mencuci pakaian biasa, setelah itu masih harus disetrika lagi agar lebih afdol. Tahapan pencuciannya lebih panjang dibanding membeli baju baru.  Jadi bisa disimpulkan, membeli barang thrift harus siap dengan kerempongannya yaa cyiiint, hahaha 😂

👉 Butuh ketelitian ekstra

Saat memilih barang thrift, kita diwajibkan untuk teliti. Emang sih, saat belanja barang baru pun kita harus teliti, namun membeli barang thrift, ketelitiannya harus lebih ditingkatin lagi, hehehe. Teliti melihat warna baju, apakah warnaya masih pekat ataukah udah sedikit pudar, teliti memperhatikan apakah ada noda (kalo ada noda, apakah noda tersebut bisa hilang atau permanen?), teliti melihat jangan sampe ada yang robek atau lepas jahitan. Sangat berbeda ketika membeli baju baru yang udah pasti good condition.

Baca juga: Lapar mata

👉 Barang yang dibeli belum tentu asli

Bila kita pandai memilih, kita akan mendapatkan barang-barang bermerk dengan harga sangat miring di thrifting. Namun semua itu gak menjamin apakah barang bermerk tersebut adalah asli. Ini berlaku untuk barang-barang fashion seperti sepatu dan tas. Walau di produknya udah tertulis jelas merk dan nomor serinya, namun pedagang thrift biasanya gak bisa menjamin barang yang dijual tersebut authentic, biasanya mereka cuman bilang asli dari bal. Namun meski begitu, menurut saya, barang kawe di thrifting (apalagi dari luar), kualitasnya jauh lebihh bagus dan bakalan tetap awet dipakai dalam jangka waktu lama dibanding barang imitasi yang diproduksi lokal yang dijual dengan harga murah. 

sepatu hitam hak tahu merk dusto yang saya beli secara online seharga 50K

Itulah beberapa kekurangan membeli barang thrifting menurut saya.  Namun jika dicompare dengan harganya yang jauh lebih murah, rasanya kekurangan ini masih bisa ditolerir lah yaa, hehehe 😁✌

Lalu hal-hal apa sajakah yang saya lakukan untuk mendapatkan barang thrift kualitas bagus dengan harga murah? Berikut ini beberapa hal yang saya lakukan:

💧 Beli pada penjual yang sedang bongkar bal baru

Bila ingin mendapatkan barang thrift yang masih bagus dan berkualitas, biasanya saya beli saat penjualnya bongkar bal (karung tempat menyimpan barang thrift) baru. Saat bal baru dibuka biasanya barang-barangnya itu masih banyak yang bagus dan bila beruntung kita bia mendapatkan barang like new. Kita masih punya banyak pilihan barang yang bisa dibeli. Kekurangan membeli saat bongkar bal baru adalah harganya  masih lumayan mahal alasannya karena penjual belum balik modal.

 💧 Beli pada penjual terpercaya

Saya selalu membeli thrifting pada toko yang kredibilitasnya oke. Ini yang saya lakukan saat membeli barang thrift secara online. Saat berbelanja di toko orens atau toko hitam, saya pilih penjual yang reputasinya oke, hal ini bisa dikenali dari jumlah penontonnya saat live dan juga interaksi obrolan saat live sedang berlangsung. Apabila penontonnya terlihat akrab dengan penjual akan meningkatkan rasa percaya saya kepada tokonya. Membaca obrolan antar penonton atau penonton dengan host itu bisa menjadi pengobat stress, apalagi bila obrolannya kocak, jadi makin betah deh nontonnya 😃. Ada beberapa penjual thrift di ecommerce yang recommended, yang barang-barangnya bagus dan harganya murah 👍

💧 Beli pada penjual yang sedang sale

Ini yang paling sering saya lakukan karena harga barangnya udah terjun bebas. Barang yang dijual ini biasanya udah sisa (namun masih banyak yang bagus). Dijual murah karena penjual udah balik modal dan udah bongkaran bal baru lagi. Ibarat kata, barang-barang ini dijual untuk ngosongin stok. Biasanya, barangnya dijual dengan cara digelar di atas tikar/terpal (kalo di pasar tradisional) jadi pembeli bisa duduk santai memilih barang yang disukai. Jujur aja, saya lebih suka memilih dengan cara duduk santai seperti ini dibanding harus berdiri melihat-lihat barang yang digantung atau dipajang di etalase.

murah meriah tapi tetap keren dipakai 😀

Itulah beberapa kekurangan barang thrifting sekaligus tips and trick yang biasa saya lakukan untuk mendapatkan barang thrifting kualitas bagus oke dengan harga miring. 

Dan ngomong-ngomong tentang thrifting, ada funfact yang ingin saya ungkapkan di kesempatan ini yakni sebenarnya saya merasa malu dan tidak percaya diri untuk menulis tentang kebiasaan nge-thrift ini, namun karena banyak content creator di tiktok yang suka membuat konten tentang kebiasaan mereka nge-thrift, akhirnya saya terinspirasi untuk membuat konten serupa, bedanya mereka buat dalam bentuk video, sedangkan saya sebagai seorang lifestyle blogger membuat konten dalam bentuk artikel, hehehe😃 

Share
Tweet
Pin
Share
No Comments

Di bulan Mei ini, tepat enam bulan blog ini gak tersentuh. Iyaa, selama itu saya didera rasa malas hingga ketiga blog saya gak mendapatkan perhatian sedikitpun. Saking malas dan masa bodohnya saya, blog kedua harus saya ikhlaskan domainnya gak diperpanjang lagi. Huhuhu sedih banget rasanya harus mengikhlaskan blog yang udah berumur tujuh tahun itu, tapi mau diapa saya gak bisa lagi mengisinya jadi terpaksa harus diikhlaskan.

Baca juga: Blog baru lagi

Saya belum tahu apakah isi dari blog itu akan saya pindahkan ke blog utama atau ke blog ini atau mungkin juga akan saya buatkan domain baru. Saat ini, blog tersebut masih saya biarkan apa adanya sambil menunggu mood saya membaik untuk kembali ternak blog lagi. Saat ini, biarlah saya fokus di dua blog aja yakni blog ini dan blog utama.

Lalu, selama enam bulan gak ngeblog saya ngapain aja? Gak ngapa-ngapain sih, kegiatan saya masih seperti biasanya, berkutat dengan pekerjaan kantor dan pekerjaan rumah tangga. Tapi memang harus saya akui, pekerjaan kantor sedang padat-padatnya. Sejak akhir tahun lalu hingga masuk tahun ini, rasanya pekerjaan gak pernah ada habisnya, adaa aja yang mesti dikerja yang menguras tenaga dan pikiran hingga ketika pulang ke rumah saya udah gak semangat lagi buka laptop untuk menulis. 

Selain pekerjaan kantor yang padat, pekerjaan rumah tangga juga serasa gak ada habisnya. Awal tahun ini saya super duper sibuk karena saat itu kami pindah rumah. Alhamdulillah, bulan Jauari 2024 ini kami resmi tinggal di rumah sendiri setelah hampir 13 tahun menjadi penghuni pondok mertua indah, hahaha. Saya baru tahu, mengurus rumah itu ternyata asyik tapi juga menghabiskan banyak waktu dan energi. Menata barang-barang yang baru dibeli, mengatur pakaian di lemari, bersih-bersih rumah dan melakukan beberapa pekerjaan rumah tangga lain ternyata secapek itu 😫

Saking capeknya, bukan cuman ngeblog yang saya tinggalkan, nonton drama korea dan film india juga gak pernah saya lakukan lagi. Untuk mendapatkan hiburan, saya scrolling tiktok atau kadang-kadang saya coba bikin kue yang resepnya saya contek dari youtube atau tiktok tapi hasilnya kebanyakan zonk hingga membuat saya lebih capek 😂

Beda banget rasanya saat tinggal di rumah mertua. Di sana saya jarang melakukan pekerjaan rumah tangga karena itu udah diambil alih oleh mertua, adik ipar dan sepupu suami yang tinggal di rumah mertua. Saya cuman ngurus keperluan anak aja jadi energinya masih cukup untuk melakukan kegiatan lain.

Baca juga: Support system yang baiik adalah kunci kebahagiaan seorang istri

Bagaimana rasanya tinggal di rumah sendiri? Hmmm, gimana yaa? Yang jelas bahagia tapi juga lebih capek karena semua kerjaan rumah tangga hanya dikerjakan oleh saya dan suami, gak dibantu mertua dan adik ipar lagi.

Namun walau sekarang kegiatan masih padat dan sibuk, sepertinya saya udah mulai bisa mengatur waktu. Setelah kurang lebih empat bulan pindah rumah, saya udah mulai bisa mengikuti ritme pekerjaan yang rutin saya lakukan setiap hari. Rasa-rasanya saya mulai bisa ngeblog lagi walau tentu saja dengan intensitas yang gak seperti dulu lagi. Ayoo semangat, Ira! Kamu pasti bisa! 💪

Langkah awal yang saya lakukan untuk mulai ngeblog lagi adalah menulis hal-hal receh seperti yang saat ini sedang saya tuliskan. Saya berusaha mencuri-curi waktu untuk menulis di sela-sela pekerjaan karena kalo gak gitu, saya bakalan masih akan terlena dan blog ini akan semakin lama terbengkalai. Saya harus bisa menghempas manjyah rasa malas itu 💪

Sejujurnya, saya pengen banget bisa menjadi seperti teman-teman blogger yang rutin mengisi blognya. Melihat mereka yang walaupun sibuk tapi tetap meluangkan waktu menulis di blog membuat saya iri. Melihat mereka yang rajin, membangkitkan ingatan tentang diri saya beberapa waktu lalu yang juga bisa seperti itu. Semoga semangat saya untuk kembali menulis ini akan terus bergelora dan gak surut lagi.

Selama lima bulan ini, sesekali saya intip grup blogwalking dan melihat beberapa nama yang masih rutin ikutan bewe. Saya kagum banget mereka tetap konsisten menjalankan aktivitas ini. Saya bertanya dalam hati "tidak bosankah mereka melakukan hal yang sama selama berbulan-bulan?" Salah satu blogger yang membuat saya kagum adalah Teh Okti, Blogger Cianjur yang semangat nulis dan semangat bewenya masih tetap prima. Keren banget deh 👍

Doakan semoga niat saya untuk kembali ngeblog berjalan lancar yaa 😊

Share
Tweet
Pin
Share
2 Comments

Setahun belakangan saya punya kebiasaan baru. Ada yang bisa tebak? Kebiasaan baru saya adalah seperti yang tertera di judul yakni trifting alias suka banget beli baju RB (rombengan) alias baju mantan atau baju bekas, hahaha 🙈

Sebenarnya, ini bukanlah kebiasaan baru sih melainkan melanjutkan kebiasaan yang sempat mati suri. Ya, sejak dulu, saya memang suka beli baju rombengan. Saat kuliah, baju kemeja putih yang saya pakai ke kampus itu adalah baju thrift atau orang Makassar menyebutnya cakar. Tak hanya kemeja putih, beberapa baju kemeja yang saya pakai ke kampus juga saya beli di cakar bongkar di pasar dekat kost-an kami. Baju rumahan? Hohoho jangan ditanya karena hampir semuanya cakar 😄

Baca Juga: Beda Standar

Setelah tamat kuliah, pulang kampung, kerja, menikah dan punya anak sambil belajar parenting, kebiasaan thrifting ini berhenti. Kebiasaan ini baru muncul kembali saat usia anak saya dua tahunan. Penyebabnya adalah karena suami minta dibelikan celana pendek. Lalu saya terkaget-kaget melihat harga celana pendek cowok di pasaran, hahaha. Saya gak nyangka ternyata harga celana pendek cowok di pasar cukup membuat dompet meringis, hingga saya memutuskan untuk membangkitkan kebiasaan lama yakni berburu RB. Bayangkan aja, harga satu lembar celana baru, kita bisa mendapatkan tiga atau empat lembar celana thrift dengan kualitas yang sama. Apalagi suami juga gak keberatan dibelikan thrift, maka bulatlah tekad ini untuk melanjutkan kebiasaan lama saya yang sempat terhenti.

Lalu sejak saat itu, saya mulai thrifting lagi. Saat masih bekerja di kantor lama di Kota Baubau, hampir setiap minggu saya luangkan waktu untuk thrifting. Saking seringnya, mama sampe komen, akan dikemanakan baju-baju atau apapun yang saya beli itu, hehehe. Kebiasaan saya semakin intens karena di Kota Baubau, ada satu pasar yang memfasilitasi penjual RB ini, namanya Pasar Wameo. Bagi orang Baubau dan sekitarnya, pasar ini identik dengan penjual RB. Ada banyak jenis penjual RB di sini, mulai dari penjual kaos kaki, sepatu, pakaian, aksesoris (tali pinggang, dan kawan-kawannya), tas, seprei, gorden, karpet, kursi hingga kasur spring bed dan busa. Lengkap bangetlah pilihan yang disediakan di sana. 

Setelah pindah ke Buton Tengah, kebiasaan thrifting ini berhenti lagi. Dan dua tahun berikutnya saya kembali membuka hati lagi, hahaha apaan sih udah kayak orang pacaran yang putus nyambung 😆.

Lalu apakah yang membuat saya suka banget membeli barang (khususnya pakaian, tas dan sepatu) thrift? Ini beberapa alasan yang mendasari saya:

👍Harganya murah

Sebagai anak ekonomi, saya mempraktikkan hukum ekonomi dalam dunia thrifting ini, yakni mengeluarkan uang sekecil-kecilnya untuk mendapatkan barang dengan kualitas yang oke (ini bisa menghemat pengeluaran). Semua pasti sepakat, barang thrift itu memiliki harga lebih murah dibanding harga barang baru. Dan yang membuat saya lebih suka, walau harganya murah, kualitas barang yang kita dapatkan itu bukan kaleng-kaleng. Mungkin ada teman-teman yang berprinsip, mending beli baru walau harganya mahal daripada murah tapi bekas. Ohoo, prinsip itu jelas bertolak belakang dengan prinsip saya, hahaha. Prinsip saya, kalo ada kualitas bagus dan harga murah, ngapain cari yang mahal shayyy 😝😂

👍 Kualitas jempol

Asal kita pandai memilih, kita bisa banget dapat barang thrift dengan kualitas yang sangat bagus. Sebagai contoh, saya lebih memilih beli sepatu thrift dengan harga 50rb daripada beli sepatu baru dengan harga yang sama. Sepatu baru harga 50rb paling lama dipake enam bulanan aja sedangkan sepatu thrift dengan harga segitu bisa dipakai dua tahunan (ini berdasar pengalaman pribadi). Sepatu kantor thrift yang saya beli seharga 35rb masih saya pakai ke kantor setiap hari hingga saat ini sejak hampir dua tahun lalu.

👍 Model barangnya unik dan gak akan ada (jarang banget) samanya

Alasan lain yang membuat saya suka barang thrift adalah modelnya unik dan hampir gak akan ada samanya. Inilah yang membuat saya percaya diri saat memakai barang thrift. Model bajunya cakep-cakep dan potongannya selalu pas di badan saya ❤️

Baca juga: Lapar Mata

Walau suka barang thrift, saya gak tutup mata, bahwa barang thrift juga memiliki beberapa kekurangan bila dibandingkan dengan barang baru. Tapi di artikel ini saya gak akan menuliskannya, insyaallah akan saya tuliskan di artikel lain soalnya saat ini lagi gak mood bahas yang jelek-jelek, hahaha gak ding alasan sebenarnya adalah karena saat ini saya sedang mulai belajar konsisten lagi untuk nulis di blog setelah sekian lama hiatus. Saya anggap artikel lanjutan nanti sebagai hutang yang harus saya lunasi jadi biar semangat lagi nulisnya, hehehe

hanya kacamata, jilbab dan tas yang bukan thrift yang saya kenakan di gambar ini 😄

Ada satu kebahagiaan yang saya rasakan ketika memakai barang thrift yakni saat orang-orang memujinya dan gak percaya kalo barang yang saya kenakan itu adalah barang thrift. Apalagi bila mereka tercengang saat mengetahui bahwa saya membelinya dengan harga yang sangat murah. Saking penasarannya, mereka sampe tanya tips and trick-nya biar bisa dapat barang bagus dengan harga murah, hahaha 😂

Ohh iyaa, walau saya hobby banget belanja pakaian thrift, ada prinsip yang saya tetapkan dan gak akan pernah saya langgar yaitu gak akan pernah membeli pakaian dalam thrift. Segila-gilanya saya pada thrift, untuk underwear saya gak akan pernah membeli yang bekas. Rasanya badan ini gak sanggup memakai pakaian dalam yang udah pernah dipakai orang lain. Membayangkannya saja ku tak sanggup 🙈

Selain pakaian dalam, peralatan elektronik (kecuali TV yang saya beli dari sahabat  tahun 2012 lalu - alhamdulillah TVnya masih bagus sampe saat ini) juga saya putuskan untuk tidak membeli yang bekas, saya prefer membeli yang baru, selain dapat garansi, rasanya lebih tenang pake elektronik baru, hehehe

Tapi kan barang thrift itu ilegal? Buktinya dulu sempat dilarang pemerintah. Hmmm untuk yang satu itu saya no comment yaa soalnya di daerah kami, penjual barang thrift ini menggelar lapaknya secara terbuka di pasar-pasar yang mudah diakses semua orang termasuk aparat kepolisian namun hingga saya menulis artikel ini, belum ada larangan atas kegiatan ini jadi saya asumsikan kegiatan jual beli barang thrift itu legal ✌️

Kalo Mama Rani dan teman-teman lain, gimana pendapatnya tentang thrifting ini? Apakah masuk dalam kelompok orang yang suka seperti saya? Atau masuk kelompok yang lebih suka beli barang baru? Share pendapatmu di kolom komen yaa 😉

Share
Tweet
Pin
Share
No Comments

Udah lama banget gak posting tulisan rangkuman keseharian saya dalam a day in my life. Dan mumpung sedang ada di Makassar, nulisin kegiatan saya hari ini untuk mengabadikan kenangan kayaknya boleh juga nih, hehehe. Baiklah gais, inilah a day in my life; Selasa 07 Mei 2024 😁

Fyi, sejak Senin kemarin saya beserta rombongan dari Pemerintah Kabupaten Buton Tengah telah tiba di Makassar dalam rangka melakukan studi tiru SAKIP di Pemerintah Kota Makassar. Rencananya, kegiatan kami akan berlangsung dua hari.

Hari ini diawali dengan bangun pagi. Walau masih ngantuk dan lemas karena semalam tidurnya telat akibat keasyikan ngegosip, saya harus segera cuci muka dan buru-buru turun sarapan ke restoran. Setelah sarapan langsung  balik ke kamar untuk mandi dan siap-siap karena hari ini adalah hari pertama kegiatan Studi Tiru Sistim Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) yang saya ikuti bersama rekan-rekan ASN lain dari Pemda Buton Tengah.

Baca juga: A Day In My Life; Rabu 19/04/2023

Setelah siap, saya dan rekan-rekan langsung turun ke lobby hotel untuk menunggu taksi online yang udah dipesan yang akan mengantar kami ke tempat kegiatan di Baruga Anging Mammiri di rumah jabatan Walikota Makassar. Setelah tiba, kami kaget ternyata jarak antara hotel dan tempat tujuan itu hanya sepelemparan batu alias bisa dijangkau dengan berjalan kaki, hahaha. Memang udah tertera di aplikasi jaraknya dekat sih, tapi kami gak nyangka sedekat itu, rasanya baru naik mobil ehhh udah harus turun lagi 😂

Pukul 10.00 Wita, kegiatan dimulai. Acara diawali dengan pembukaan oleh MC yang dilanjutkan dengan sambutan Asisten III Pemerintah Kab. Buton Tengah. Setelah sambutan dari Pemda Buteng dilanjutkan dengan sambutan dari Asisten III Pemerintah Kota Makassar. Beliau menjelaskan banyak hal tentang kota Makassar yang selama ini belum kami ketahui. Dari beliau kami jadi tahu arti kata anging mammiri yakni angin sepoi-sepoi.

Kegiatan berlangsung kurang lebih dua jam lamanya. Waktu serasa cepat berlalu karena setelah dua sambutan dari masing-masing perwakilan dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab. Sebagai peserta, banyak informasi dan ilmu baru yang kami ketahui selama kegiatan berlangsung yang nantinya bisa diterapkan saat kembali ke Buton Tengah. 

tim Dinas Pangan Buteng bersama Asisten III Pemkot Makassar

Sayangnya diskusi yang seru itu harus berakhir dan kami pun pulang menuju hotel. Karena jarak ke hotel lumayan dekat, kami putuskan untuk berjalan kaki aja, sayangnya di tengah perjalanan saya menyadari sesuatu, saya merasa seperti ada yang kurang, badan saya rasanya ringan banget seolah tanpa beban apapun, ternyata eh ternyata laptop saya tertinggal di tempat kegiatan. Sebagai orang panikan, saya langsung heboh dong, saya buru-buru ingin kembali untuk mengambilnya namun rekan yang sedang bersama saya bilang kami gak usah balik, cukup telepon teman-teman yang masih ada di lokasi aja dan syukurlah ternyata di sana masih banyak teman yang bertahan. Alhamdulillah laptop saya aman dan sekarang udah ada di tangan saya dan sedang saya pakai untuk menulis artikel ini, hehehe 😄

Baca juga: A Day In My Life; Rabu 29/03/2023

Setelah tiba di hotel, kami pun makan siang dan lanjut ngegosip. Gak terasa waktu udah menunjukkan pukul 15.30. Cangkem yang udah capek bergosip ini sepertinya harus diajak jalan-jalan ke mall nih biar segar dan lebih semangat lagi ngegosipnya 🤣

Awalnya sempat bingung mau berkunjung ke mana dulu (kebetulan hotel yang kami tempati jaraknya lumayan dekat dengan 2 mall besar di Makassar yakni Trans Studio Mall (TSM) dan Mall Ratu Indah (MARI). Setelah berpikir cukup lama dan mempertimbangkan banyak hal akhirnnya TSM lah yang terpilih.

Sepanjang perjalanan ke TSM saya berdecak kagum karena Makassar benar-benar berubah. Makassar 14 tahun lalu nyaris gak terlihat lagi dan berganti dengan Makassar yang modern dan lebih padat. Dan setelah masuk TSM kami semakin kagum karena harga barang yang dijual di sana agak sulit dijangkau oleh dompet kami 🤣

Setelah muter-muter sambil foto-foto, kami putuskan untuk keluar aja. Rasanya gak tahan berlama-lama di dalam euy, pengen banget belanja barang-barang yang terpajang di sana tapi apa daya kondisi keuangan gak memungkinkan. Terpaksa memendam hasrat karena terhalang kondisi dompet itu perih jenderal  😭. 

numpang foto di sini aja 😄

Dan karena masih pengen jalan-jalan, akhirnya kami pesan taksi online lagi menuju Mall Panakukkang (MP). Sayalah yang memilih mall ini karena ingin bernostalgia mengingat masa-masa kuliah dulu. Saat itu MP menjadi tempat ngadem saat kepanasan pulang kampus, MP juga menjadi tempat saya mencari hiburan sembari membaca buku di Gramedia. Saya penasaran bagaimana kondisi MP saat ini setelah 14 tahun saya tinggalkan Makassar. Ternyata MP masih sama seperti dulu cuman sedikit lebih ramai.

Kami gak lama di sana, menjelang shalat isya kami pesan taksi online lagi menuju ke hotel. Sesampainya di hotel kami juga pesan makan malam via aplikasi. Tadi saya makan ayam goreng lalapan. Rasanya enak dan porsinya pas. Setelah makan malam kami ngegosip lagi sebelum akhirnya saya menyerah karena mata udah mulai  ngantuk.

Baca juga: Ketika si Penakut Jalan Sendiri

Segera saya cuci muka dan bersiap-siap tidur namun entah mengapa rasanya ada yang kurang bila belum mengabadikan cerita hari ini di blog. Maka segera saya buka laptop dan menuliskan artikel ini. Saya yakin, suatu saat nanti, saat membaca cerita yang tertulis ini, kenangan hari ini akan hadir kembali di memory.

Harapan saya, semoga bukan cuman Kota Makassar yang bisa kembali saya kunjungi setelah sekian lama, saya juga kepengen bisa mengunjungi kota-kota lainnya yang dulu pernah saya kunjungi, salah satunya Kota Malang, kali aja saat berkunjung ke sana saya bisa meet up dengan Blogger Malang biar gak cuman berkomunikasi via medsos aja. Tolong kabulkan permintaan hamba-Mu ini yaa Allah, amiiin 🤲😇


Share
Tweet
Pin
Share
14 Comments


Pandemi Covid yang melanda dunia beberapa waktu lalu telah mengubah banyak hal dalam kehidupan kita. Yang paling saya rasakan adalah berubahnya kehidupan perekonomian banyak orang di sekeliling saya dari kehidupan sebelumnya.

Saat pandemi, saya menyaksikan banyak teman-teman mengambil langkah yang sebelumnya gak disangka-sangka. Gak satu dua orang teman saya memutuskan menekuni bisnis rumahan alias menjadi pelaku UMKM. Iya, teman-teman "banting setir" menjadi pengusaha kecil. Selama masa covid, mereka memanfaatkan media sosialnya (facebook) untuk menjajakan "hasil karya" mereka.

Saya sempat kepo dan bertanya pada beberapa teman yang "banting setir" tersebut. Mencari tambahan penghasilan karena hilangnya pekerjaan suami dan melihat peluang bisnis yang menjanjikan menjadi alasan mereka mengambil jalan itu.

Jujur aja, saya salut banget pada teman-teman yang berani mengambil langkah ini karena sampai saat ini saya belum berani mengambil langkah seperti mereka. Saya masih takut memulai untuk berbisnis karena takut gagal. Padahal harusnya gak boleh gitu yaa. Harusnya, kalo ada niat, segera lakukan dan insyaallah pasti akan ada jalan asal kita sungguh-sungguh berusaha. Mungkin saat ini kesempatan saya baru sebatas menjadi konsumen mereka tapi siapa tahu suatu saat saya juga akan menjadi seperti mereka? Jalan hidup seseorang kadang gak bisa ditebak, kan? hehehe 😁

Berikut beberapa bisnis yang ditekuni teman-teman saya di medsos selama pandemi dan masih bertahan hingga kini:

- Kuliner

Gak bisa dipungkiri, di daerah tempat tinggal saya, bisnis makanan alias kuliner menjadi bisnis yang paling menjanjikan selama pandemi lalu. Beragam jenis makanan dijajakan mulai dari jajanan dan gorengan seperi kue lapis, pisang dan ubi goreng, jalankote (pastel) hingga nasi goreng dan ayam lalapan. Minuman pun beragam mulai dari es kelapa muda, es cendol, es dawet, bubur kacang ijo, es teler hingga pisang ijo. Menyaksikan jajanan pasar dan minuman yang dijual membuat saya teringat pada bulan ramadan karena biasanya saya baru bisa melihat jajanan dan minuman tersebut dijual secara bersamaan di bulan ramadan. Saat pandemi lalu, gak perlu menunggu ramadan untuk menikmati semua itu karena semuanya dijajakan setiap hari di medsos oleh teman-teman saya.

Bahkan ada sahabat saya yang awalnya cuman hobby aja membuat kue dan bolu, sejak pandemi lalu dia memutuskan untuk mengembangkan sayap membuka pesanan kue tart dan buket bunga sebagai kartu ucapan selamat pada perayaan hari-hari besar nasional. Kini pelanggannya semakin banyak dan usahanya semakin maju.

buket bunga yang saya pesan dari teman yang saya maksud


- Pernak-pernik

Gak cuma di bidang kuliner, beberapa teman juga memutuskan untuk membuka usaha pernak-pernik. Salah satu rekan, memutuskan untuk membuka usaha dengan memanfaatkan hobbynya yang suka membuat pernak pernik. Dia gak nyangka, ternyata hobby-nya itu bisa dimonetisasi alias mendatangkan pundi-pundi rupiah yang bisa menggendutkan rekening banknya, hehehe. Saat membawa hasil karyanya ke kantor, banyak teman-teman yang tertarik dan membeli. Adapun hasil karyanya adalah gantungan handphone, cincin, kalung gelang dan beberapa pernak-pernik lain. 

Hasil karya rekan saya ini gak kalah bagus dari oleh-oleh yang biasanya saya dapatkan dari teman yang baru pulang traveling dari kota-kota wisata yang ada di Indonesia maupun luar negeri. Saya yakin, bila diseriusi, misalnya dengan menambah modal untuk usahanya ini, teman saya bisa mendapatkan omset yang lebih besar dari yang saat ini dia dapatkan.

Dan setelah melihatnya, saya yang juga nyambi sebagai blogger, jadi tertarik ingin menggali potensi lain yang saya miliki dan kemudian mengembangkannya menjadi usaha yang menghasilkan. Mba Travel Blogger Medan, apakah gak tertarik mengembangkan potensi yang dimiliki kemudian mencoba usaha yang bisa menghasilkan kayak gini? Yuk sama-sama kita mencoba 😉

Baca Juga: Nabung Setiap Hari? Insyaallah Bisa!

- Fashion

Salah satu teman SMA saya juga membuka usaha fashion yaitu menjual busana muslim mulai dari kaos kaki, legging, gamis dan tunik kaki hingga hijab. Dia  mendesain sendiri hijab yang dijualnya dan hasilnya memang terlihat lebih eksklusif. Usahanya ini sudah memiliki pelanggan tetap yang bukan cuman dari Kota Baubau saja melainkan dari beberapa kabupaten di sekitarnya.

**

Itulah beberapa jenis usaha yang dijalankan oleh teman-teman saya selama masa pandemi lalu dan usaha tersebut masih bertahan hingga kini. Saya ikut bahagia melihat progress usaha mereka yang semakin maju.

Seminggu yang lalu saya bertemu teman SMA yang punya usaha fashion yang saya tulis di atas. Dia berbagi cerita tentang perjalanan usahanya, bahwa usaha yang dirintisnya tersebut tidak akan semaju sekarang bila tidak mendapatkan dukungan dana dari Bank BRI melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Menurutnya, tambahan modal dari Bank BRI adalah salah satu yang membuat usahanya bisa sebesar dan sesukses sekarang. Dia juga bercerita bahwa sekarang BRI sudah lebih maju dibanding saat kami masih sekolah dulu karena sudah ada Digitalisasi BRI.

Mendengar ceritanya, saya pun teringat dengan rekan saat masih bekerja di perusahaan pembiayaan dulu. Rekan tersebut juga mendapatkan bantuan dana melalui KUR dari Bank BRI dan kini ia telah berhasil membuka showroom mobil bekas yang cukup besar di Kota Baubau.

Baca Juga: Contoh Surat Resign

Melihat perkembangan pesat usaha dua orang yang saya kenal setelah mendapatkan dukungan modal dari BRI, saya simpulkan bahwa kalimat "BRI Untuk Indonesia" itu memang nyata adanya. Bank BRI adalah Pahlawan UMKM karena BRI memberdayakan Ultra Mikro dan UMKM Indonesia. 

Keren nih BRI! Teruslah membantu pengusaha UMKM Indonesia! 💪

Share
Tweet
Pin
Share
No Comments



Kurang Lebih empat tahun lalu, wajah adik lelaki saya membengkak dan menghitam. Saya kaget karena saat terakhir bertemu dengannya, kondisi wajahnya tidaklah seperti itu. Saat saya tanya mengapa wajahnya bisa begitu? Dia juga tidak tahu jawabannya. Yang dia katakan adalah sejak wajahnya seperti itu, ia juga mulai sering mati rasa, bahkan saat jarinya luka dan tersengat api, ia tidak merasakan sakit.

Jawabannya membuat saya khawatir. Saya langsung menyarankan agar ia segera ke dokter tapi saat itu saya bingung menyarankan ke dokter apa. Saya cuman bilang agar ia segera ke puskesmas untuk memeriksakan kondisinya. Ia tak menolak tapi juga tidak mengiyakan. Saya asumsikan, ia mungkin sedang berpikir harus ke dokter apa.

Baca Juga: Minyak Gosok Andalan

Beberapa hari berikutnya, ia minta ditemani ke dokter spesialis kulit dan kelamin (SPKK). Saya heran kok ke dokter kulit? Ia cuman menjawab bahwa sepertinya yang bisa mendiagnosa penyakitnya adalah dokter SPKK. Dan benar saja, setelah memeriksa dan mewawancarai adik saya, dokter mendiagnosa adik saya terkena kusta. Beliau langsung merujuknya melakukan pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosa, dan setelah hasil labnya keluar, memang benar adik saya positif terkena kusta.

Jujur saja, saat pertama kali mendengarnya terkena kusta, hati saya menangis. Kok bisa adik saya yang pembersih, rajin perawatan (bahkan ia lebih rajin perawatan kulit dibanding saya), punya impian untuk traveling keliling Indonesia harus terkena penyakit ini? Penyakit yang memiliki stigma buruk di masyarakat? Huhuhu. Dan seperti yang saya duga, adik saya sangat terpukul. Apalagi dokter menyatakan bahwa ia harus menjalani pengobatan secara rutin selama setahun. Membayangkannya saja sudah membuat mentalnya down, sedih dan takut.

Dokter SPKK langsung memberi rujukan untuk mengambil obat kusta di salah satu puskesmas di Kota Baubau. Dalam menjalani pengobatannya, saya melihat perjuangan adik saya yang lumayan berat. Syukurlah di puskesmas tempatnya mengambil obat ia bertemu perawat dan pengelola program kusta yang friendly dan hangat. Setiap adik saya datang mengambil obat, si perawat selalu memberi semangat agar adik saya sabar menjalani pengobatannya. Si perawat juga menjelaskan hal-hal tidak mengenakkan yang akan terjadi di tubuh adik saya selama menjalani pengobatan sehingga ketika hal tidak mengenakkan itu dialami, adik saya sudah tahu dan tidak panik. Sungguh si perawat sangat berperan penting dalam perjalanan pengobatan kusta adik saya.

Si perawat juga menenangkan hati adik saya saat adik saya mengalami perlakuan kurang menyenangkan dari atasan dan rekan-rekannya di kantor. Si perawat mengatakan bahwa mereka itu belum teredukasi mengenai penyakit kusta. Ia meminta adik saya untuk tetap sabar dan terus semangat menjalani perawatan. Si perawat berkata bahwa hal buruk itu tidak akan terjadi selamanya karena usai setahun menjalani pengobatan, insyaallah penyakitnya akan sembuh dan semua akan kembali baik-baik saja.

Mendengar cerita adik saya tentang perawat yang mendampinginya membuat saya terharu dan tenang. Saya semakin yakin adik saya akan tegar menjalani pengobatan dan pada akhirnya sembuh dari kusta karena didampingi oleh perawat yang andal.

Dan setelah perjuangan panjang melelahkan, adik saya berhasil menyelesaikan pengobatannya dan dinyatakan sembuh oleh dokter. Wajah yang sebelumnya menghitam dan membengkak perlahan-lahan membaik hingga akhirnya warna kulit dan kondisinya kembali seperti semula dan alhamdulillah kini ia telah menikah dan memiliki anak.

Setelah membersamai perjalanan adik saya dalam menjalani pengobatan kusta, saya berkesimpulan bahwa selain semangat, kesabaran dan kegigihan pasien, perawat dan pengelola program kusta memegang peranan penting dalam pengobatan dan penyembuhan pasien kusta. Angkat topi buat para perawat dan pengelola program kusta, kalian adalah pahlawan.

Ratna Indah Kurniawati, Melawan Dusta Kusta

pic source: youtube wartabromo tv


Dan ngomong-ngomong tentang perawat dan pengelola program kusta, saya juga mengenal satu sosok yang sangat menginspirasi, Namanya adalah Ratna Indah Kurniawati, seorang perawat di Puskesmas Grati Pasuruan yang sejak tahun 2008 mendedikasikan diri untuk merawat pasien kusta sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat terkait fakta dan mitos tentang penyakit kusta.

Data WHO yang menyatakan bahwa Indonesia menduduki peringkat ketiga terbesar jumlah kasus kusta di dunia membuat Ratna semakin termotivasi untuk mengedukasi masyarakat. Beliau tidak hanya mengedukasi secara teori, tapi juga melakukan hal yang menyentuh sisi emosi masyarakat. Selain memberikan bantuan pengobatan dan pengetahuan kepada penderita kusta, Ratna juga melakukan pendekatan sosial, salah satunya dengan berkunjung ke rumah-rumah warga mengajak mereka berkumpul dan memberi edukasi tentang kusta. Ratna bahkan tak segan makan bareng dengan penderita kusta, beliau menjelaskan bahwa penularan kusta itu tidak instan layaknya penularan flu.

pic source: youtube wartabromo tv


Tidak hanya itu, Ratna juga membimbing para penderita kusta agar dapat hidup mandiri. Ia memberikan pelatihan dan motivasi agar mereka memiliki usaha sendiri. Salah satu orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK) yang kini sudah berhasil hidup mandiri adalah Pak Amat yang menderita kusta sejak tahun 1997. Pak Amat kehilangan jari-jarinya akibat penyakit kusta yang membuatnya hanya bisa bekerja serabutan dan menggantungkan hidup pada orang tuanya. Syukurlah, berkat bimbingan Ratna, Pak Amat kini punya usaha sendiri yakni beternak jangkrik. Dari usahanya ini, ia bisa menghasilkan 26 kg jangkrik setiap bulan yang bisa dijual dengan harga Rp. 20rb – Rp. 30rb per kg.

Menurut Ratna, banyak orang yang berlaku diskriminatif pada penderita kusta karena minimnya edukasi. Masih banyak orang yang belum paham bahwa penularan kusta tidak terjadi dalam waktu singkat, melainkan perlu waktu bertahun-tahun. Stigma buruk masyarakat terhadap kusta memang jadi pe er untuk kita semua. Masih banyak masyarakat bahkan yang berpendidikan tinggi (salah satunya atasan adik saya) yang menganggap kusta sebagai penyait kutukan dan penderitanya harus dikucilkan.

Dibutuhkan kerjasama dari pemerintah, berbagai elemen seperti masyarakat yang terdiri dari beragam profesi, serta komunitas agar edukasi tentang kusta dapat menyentuh semua kalangan, karena sama seperti kita, penderita kusta dan OYPMK juga berhak mendapat perlakukan yang sama. Penderita kusta bisa sembuh, hidup normal dan terus berdaya.

Sebagai blogger, kita juga bisa menulis artikel tentang edukasi kusta ini. Saya yakin, bila blogger seluruh Indonesia bersatu dimulai dari blogger Aceh, Blogger Semarang, Blogger Sulawesi, Blogger Kalimantan hingga blogger Papua menulis tentang kusta, akan semakin banyak masyarakat yang ngeh dan sadar bahwa penderita penyakit ini butuh dukungan kita semua.
Share
Tweet
Pin
Share
8 Comments

 



Setelah lumayan lama berpikir, beberapa hari lalu akhirnya saya beranikan diri checkout retinol yang udah lumayan lama nangkring di keranjang belanja salah satu ecommerce andalan. Seperti yang saya tulis di artikel ini, salah satu yang pengen banget saya coba namun masih takut saya lakukan adalah memakai retinol.

Setelah berusaha meyakinkan diri bahwa wajah ini udah sangat membutuhkan benda yang satu ini, plus meyakinkan diri wajah saya gak bakalan kena purging, akhirnya tangan ini gak ragu lagi menekan tombol checkout tepat H-3 lebaran.

Dan setelah beberapa hari menunggu kedatangannya yang telat banget, akhirnya retinol yang saya tunggu-tunggu itu datang juga. Penasaran dengan penampakannya? Ini nih benda yang sempat bikin saya overthinking karena si kurir telat nganterin ke rumah. 

retinol pertama yang saya coba, hehehe

Oh iyaa, mungkin teman-teman akan bertanya. Mengapa saya memilih merk ini? Bukan merk lain yang sedang viral? Jawabannya simpel, karena ini adalah retinol yang paling murah dan ongkirnya gratis, hahaha sungguh alasan yang sangat mengutamakan aspek ekonomi yaa 😝😆

Ehh gak ding. Alasan sebenarnya adalah karena pengen aja beli yang ini. Saat melihat-lihat koleksi retinol yang dijual di salah satu toko favorit, hati saya langsung klik sama merk ini. Setelah klik, baru deh cari tahu review-nya dan ternyata lumayan bagus, jadi mantaplah hati ini untuk memilihnya.

Semoga setelah memakainya nanti kondisi wajah saya jadi lebih baik. Saya sadar, berharap pada retinol doang tentu gak akan bisa membuat wajah lebih sehat bila tanpa disertai dengan kebiasaan merawat wajah dengan rutin.

Harapan saya semoga dengan adanya retinol ini saya jadi lebih semangat lagi skincare-an, agak masalah-masalah di wajah ini bisa terhempas manja.

Kalo kalian gimana gaes? apakah udah mencoba retinol juga?

Share
Tweet
Pin
Share
8 Comments
Newer Posts
Older Posts

About me


Hai, Saya Ira. Pemilik sekaligus penulis blog ini. Jika ada pertanyaan  sehubungan dengan tulisan saya atau ingin menjalin kerjasama, silakan  hubungi saya melalui email di  wewahyu2011@gmail.com

Lets's Be Friends

  • facebook
  • Instagram
  • twitter

Followers

Blog Archive

  • ▼  2025 (2)
    • ▼  Mei (2)
      • Teka Teki Silang
      • Bukan Dejavu
  • ►  2024 (8)
    • ►  September (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (4)
  • ►  2023 (35)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  April (8)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Februari (8)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2022 (51)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (5)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (5)
    • ►  Januari (5)
  • ►  2021 (9)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (2)

Labels

#Trending A Day In My Life All About Women Beauty & Healthy Collaboration Cuap-cuap Hikmah Of Blablabla Honest Review In My Opinion Info Kece Relationship Tips & Trick ❤️ Produk Indonesia

Total Tayangan Halaman

Recent Comments

`

Recent Posts

Popular Posts

  • Layangan Putus
  • Saat Mimpi Tak Dapat Diraih
  • Review Tokyo Night Deodorant Roll On
  • Hempaskan Virus KDRT Sejak Belum Menikah
  • Hal-hal yang Terjadi di Bulan Januari 2022

Member Of




Created with by BeautyTemplates