Lapar Mata

by - Januari 21, 2023



Adakah yang tahu apa makna dari judul artikel ini? Mata kok lapar? Yang lapar itu bukannya perut yaa?? Tapi saya yakin pembaca pasti udah paham lah yaa, yang saya maksud lapar mata ini adalah sebuah peribahasa.


Lapar mata adalah kondisi dimana ada keinginan untuk memenuhi hasrat makan atau membeli barang-barang yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Seringnya dilakukan tanpa pemikiran yang matang sehingga muncul penyesalan setelahnya.


Siapa yang kayak gini? Terus terang aja, saya sering nih kayak gini, lapar mata dan biasanya gak bisa dibendung, huhuhu 😭. Tapi lapar matanya saya tuh bukan di makanan melainkan di barang-barang, misal pakaian, sepatu, tas atau barang-barang lain yang unik dan lucu. Kalo untuk makanan, saya gak terlalu ngebet sangat berbeda dengan benda-benda yang saya sebut tadi.

Kapan sih biasanya saya diserang lapar mata? Bisa kapan aja, misal saat sedang jalan ke mall dan ketemu barang yang menurut saya lucu dan harganya masih bisa dijangkau, auto langsung diambil dan dimasukin ke keranjang belanja walau barang tersebut gak saya butuhkan. Saat memasukkan barang tersebut ke troli, saya membenarkan tindakan yang saya lakukan dengan berpikir bahwa barangnya nanti tetap bakalan kepake, kok πŸ˜₯.

Baca Juga: Beda Standar

Lapar mata juga sering saya alami ketika belanja bulanan ke supermarket. Saat pulang ke rumah dan membongkar barang belanjaan, ada aja barang yang sebelumnya gak direncanakan untuk dibeli tiba-tiba nyempil di antara barang kebutuhan bulanan kami, ckckck 🀦‍♀️. 

Saya juga sering diserang lapar mata ketika nonton live di shopee dan tiktok shop, atau saat sedang windows shopping ke tokopedia dan ecommerce lainnya. Saya lumayan sering beli barang karena tergiur harganya yang murah padahal gak butuh-butuh amat. Entahlah, saat melihatnya, barang-barang tersebut rasanya saya butuh semua, namun setelah tiba di tangan saya, ternyata barang serupa udah duduk manis di lemari. 

Saya sadar, kebiasaan lapar mata ini adalah kebiasaan buruk. Kebiasaan ini memiliki bahasa keren yang disebut impulsive buying atau pembelian yang dilakukan secara impulsif alias tiba-tiba dan gak terencana. Bila sering dilakukan, kebiasaan ini akan sangat berbahaya bagi keuangan keluarga.

Kalo gak salah ingat, saya pernah membaca artikel yang ditulis seorang  Blogger Bandung yang sayangnya saya lupa namanya, tentang kebiasaan membeli barang secara impulsif ini. Menurut beliau, kebiasaan ini bisa banget dihilangkan asalkan pelakunya menyadari bahwa kebiasaan ini adalah kebiasaan buruk. Karena bacanya udah lumayan lama, saya lupa apa aja isi tulisan beliau, yang melekat di ingatan saya hanyalah kalimat bahwa kebiasaan buruk ini bisa dihilangkan asal pelakunya sadar dan mau berubah.

Saya pun mencari tahu lebih banyak tentang kebiasaan impulsive buying ini. Ternyata ada beberapa faktor yang dapat memotivasi seseorang untuk melakukan kebiasaan ini, diantaranya:

πŸ‘‰πŸ» Gemar berbelanja

πŸ‘‰πŸ»Merasa sayang untuk melewatkan kesempatan yang didapat atau merasa takut rugi bila tidak memanfaatkan kesempatan untuk membeli sebuah barang di saat barang tersebut sedang diskon, misalnya

πŸ‘‰πŸ» Kurangnya pengetahuan tentang perencanaan keuangan

Bila melihat ketiga motivasi ini, sepertinya yang menjadi motivasi saya lapar mata adalah poin kedua. Entahlah, saat diserang lapar mata, saya selalu merasa harus membeli barang yang saya sukai karena takut barang tersebut dibeli orang lain dan saya gak punya kesempatan lagi untuk memilikinya. Saya juga merasa, ini adalah saat yang tepat untuk membeli sebuah barang karena harganya yang miring banget, belum tentu saya bisa mendapatkan barang tersebut dengan harga semurah ini di kesempatan berikutnya. Sungguh pemikiran yang ceroboh dan sangat berbahaya bagi dompet.

Lalu bagaimana cara agar kita bisa terhindar dari godaan kenikmatan sesaat impulsive buying ini? Ada beberapa cara yang bisa dilakukan, yaitu:

πŸ‘ŒπŸ» Lakukan perencanaan keuangan dengan baik dan matang

πŸ‘ŒπŸ» Buat anggaran belanja

πŸ‘ŒπŸ» Buat daftar belanja atau pengeluaran tetap

πŸ‘ŒπŸ» Identifikasi kebutuhan dan keinginan

πŸ‘ŒπŸ» Bijak memanfaatkan produk keuangan ketika berbelanja, misal pembayaran menggunakan kartu kredit atau pay later.

Harus saya akui, perencanaan keuangan keluarga kami memang belum bagus dan saya juga belum rutin membuat daftar belanja dan pengeluaran tetap keluarga kami. Mumpung masih di awal tahun, sepertinya saya mesti mencoba beberapa cara di atas agar cash flow keuangan keluarga kami bisa sehat dan bisa menghindarkan diri ini dari godaan syaiton yang terkutuk eh lapar mata.

Setelah saya buka aplikasi ecommerce dan menghitung total pengeluaran belanja barang yang saya pikir saya butuhkan namun ternyata gak butuh-butuh amat itu selama tahun 2022 kemarin, saya langsung kaget dong karena nilainya lumayan besar 😱.

Sepertinya perencanaan keuangan keluarga udah gak bisa dtawar dan harus segera dilakukan nih, bila ditunda lagi, saya takut kembali melakukan kesalahan yang sama. Daripada memakai uang untuk belanja hal-hal gak penting yang nantinya disesali, mending uangnya ditabung atau dibuat perencanaan lain misal liburan bersama keluarga tercinta ke tempat wisata impian dengan nginap di hotel berbintang. Pengalaman selama liburan bisa saya tulis di blog. Saya juga bisa menulis Review Hotel tempat kami menginap di blog. Sekali liburan bisa menghasilkan beberapa artikel.

Baca Juga: Daftar Kota di Indonesia yang Pernah Saya Kunjungi

**

Itulah sekelumit uneg-uneg tentang kebiasaan saya yang sering lapar mata. Saya berharap, di tahun yang baru ini kebiasaan buruk ini perlahan-lahan bisa saya hilangkan, apalagi tahun ini rencananya kami mulai melanjutkan pembangunan rumah yang sempat tertunda πŸ’ͺ🏻.

You May Also Like

24 Comments

  1. Wah..saya banget kalau lagi mumet buka marketplace dan masukin keranjang lanjut CO. Atau kalau gabut jalan sendiri ke mall ada aja yang ditenteng pulang. Hiks. Lapar mata bener..syukur ketika anak-anak makin besar dan kebutuhan makin banyak dan saya makin matang (baca tua) saya makin sadar diri juga...bisa ngerem sih akhirnya kwkwk. Yuk semangat kita, Mba Ira

    BalasHapus
  2. Sekarang saya udah jauh bisa menahan untuk gak lapar mata. Kalau lagi belanja, bikin list dulu. Supaya bisa tertib. Nah, sempat gak bisa nahan kalau lagi kesel. Pelampiasannya dengan belanja. :D

    BalasHapus
  3. Dulu saya termasuk yang laper mata mba. Emang efeknya ke keuangan keluarga. Bayia banget.
    Sekarang udah tertib membuat daftar belanjaan. Tapi masih belum bisa nabung juga, hiks.
    Perencanaan keuangannya kudu diperkuat lagi nih.

    BalasHapus
  4. Saya masih dalam taraf lapar mata deh kayanya. Keuangan masih amburadul. Udah nyoba sisihkan uang, eh akhir bulan ujung2nya kepakek hehehe

    BalasHapus
  5. dulu, waktu anak baru satu bisa tuh tiap event bulanan kaya 1.1 atau 12.12 pokoknya event bulanan yang gitu kan banyak promo dan diskonnya pasti deh belanja gak kelewat, kaya ada yang kurang klo ga belanja hahaha
    tapi alhamdulillah punya anak 3 sangat sangat jarang buka e commerce kecuali buat hal-hal yang dibutuhin aja hihi

    BalasHapus
  6. Iya nih, aku kadang lapar mata, sampai di keranjang ada 99+. Tapi sekarang udah mendingan sih, cuma belanja yang diperlukan aja

    BalasHapus
  7. Ternyata yang bikin lapar mata itu karena kurangnya pemahaman antara kebutuhan dan keinginan sih ya. Kalau aku, biasanya mendadak lapar mata kalau sudah lirik-lirik video review makanan, apalagi kalau pas akhir bulan dan pendanaan mulai menipis. Gilran dana lagi lumayan aja, malah nggak kepikiran. Heran aku sama diri sendiri kadang-kadang, Kak.

    BalasHapus
  8. Doh lapar mata nih emang ganggu banget. Kita bisa beli barang bahkan tanpa tahu mau dipakai kapan. Teros pas duit habes jadi menyesal. Hehehee

    BalasHapus
  9. lapar mata nih termasuk "penyakit" ya? hehehe
    Saya beruntung pindah jauh dari pusat kota
    sehingga gak bisa lagi belanja di supermarket yang jaraknya cuma 5 menit dari rumah
    tau sendirilah kalo ke supermarket, mau beli buah eh pulangnya gak hanya buah, juga beli detergent, pewangi, tisue dll hanya karena lagi diskon

    BalasHapus
  10. Saya pun termasuk yang suka lapar mata, Mba terutama saat berkeliling mall dan melihat benda-benda yang unik. Padahal sampai rumah ya menyadari bahwa yang dibeli tidak terlalu butuh tapi karena lucu dan unik suka aja dibawa pulang ke rumah.

    BalasHapus
  11. biasanya lapar mata sering terjadi kepada para wanita. termasuk aku nih. saat mood tidak baik, ingin rasanya membeli ini itu, memakan ini itu, tetapi sering di ending tidak sesuai yang diharapkan berujung kecewa. misal yang dibeli ujung-ujungnya tidak sesuai dengan ekspektasi.

    BalasHapus
  12. Kalau terlalu dikit-dikit belanja ya bisa bikin boncos juga, apalagi memungkinkan juga seperti tulisannya mbak Ira, pertanda kelola keuangannya kurang rapi

    BalasHapus
  13. Kalau saya kebalikan, Mba, saya termasuk orang yang lapar mata ke makanan tapi sudah mulai bisa mengendalikan diri dengan menyadari besaran kalori yang ada di makanan tersebut...

    BalasHapus
  14. paling penting adalah identifikasi kebutuhan dan keinginan, setuju!

    BalasHapus
  15. Aku lapar mata kalau di rekening baru gajian, hahah...berasa bisa nge-beli semua mall dan seisinya. Tapi begitu tanggal tua, gak bisa lapar mata, karena uangnya mefeettt..
    Seringkali kudu banyak-banyak menyortir pikiran agar gak lapar mata yaa.. Hehhe, bisa dengan cara ga buka apps e-commerce atau gak keluar rumah dulu untuk sementara waktu.

    Pokoknya sebagai Ibu, kudu tahan dan kuat.

    BalasHapus
  16. Aku selalu bikin list belanja, mba. Meski belanja di warung kecil deket rumah. Jadi lebih memudahkan buat tahu budget yang dibutuhkan

    BalasHapus
  17. Wah, banyak sekali kejadian seperti ini, lapar mata bikin lupa diri, apalagi kalo lagi jalan ke mall melewati toko barang yang lucu - lucu, walau ga penting banget mesti kebeli, tapi kebiasaan ini bikin kantong saya menangis hehehe, akhirnya setiap kali akan pergi belanja kemanapun saya buat list, biar ga kalap mata lagi, biar ga over budget juga.

    BalasHapus
  18. betul banget mba, salah satu faktor impulsive buying karena kurnagnya pengetahuan dalam pengelolaan finansial, itu yang saya alami dulu awal-awal bekerja, karir sedang bagus-bagusnya apa saja saya beli (bukan self reward) karena barang yang dibeli itu banyak yang tidaks aya butuhkan. sampai akhirnya saya mengerti soal financial management, moment itu menjadi timbal balik buat saya berhenti belanja hal-hal yang ga dibutuhin, dan lebih memilih menginvestasikan uang untuk hal yang bermanfaat seperti kursus, menikmati hobi, upgrade diri, invest ke kesehatan dan lainnya

    BalasHapus
  19. Aku juga dilanda lapar mata sih mbak, tapi antara lapar mata karena belanja sama makan, lebih condong ke makan sih.

    Kalau lapar mata belanja di e-commerce gitu masih bisa ditahan, dan kalau ada yang bisa dibeli secara offline, beli aja di sini.

    Tapi kalau udah lapar mata sama makanan, masih sulit untuk ditahan sekalipun sudah dianggarkan mbak

    Jujur juga, untuk perencanaan keuangan di awal tahun juga masih belum stabil salam mencatat apalagi

    BalasHapus
  20. Pernah ada masanya saat pas lagi banyak uang jadi lapar mata, CO ini itu sembarang kalir, sampai sadar-sadar uang yang buat bertahan hidup sampai akhir bulan itu sudah mengkeret. Wkwkk *pait pait pait

    Sekarang ini aku lagi belajar banget buat bedain kebutuhan sekunder dan tersier.. Semoga aja ke depannya nanti tahu mana yang kebutuhan dan keinginan semata.

    BalasHapus
  21. saya pun juga sering lapar mata Kak, tapi Alhamdulillah kurleb setahun belakangan ini mulai rem itu cekout2 ndk jelas hanya karena lapar mata hihihih.
    semoga sih bisa selalu konsisten
    ayooo Kak, kita juga semangat yaaa, ayooo liburan doong Kak, nanti bisa cerita pengalaman travelingnya doong disini ;)

    BalasHapus
  22. aku lapar matanya malah kalau ke pasar tradisional soalnya kan banyak lapaknya dan harganya murah-murah. kalau ke mall masih bisa mikir-mikir dan bahkan pulang tanpa belanja apapun. hehe

    BalasHapus
  23. Kalau udah lapar mata maunya belanja mulu ya buk. Wkwkwwk. Eh tapi menurutku itu bukan kebiasaan buruk kok. Dijadikan positif aja. Habis belanja, langsung review deh di tulisan. Jadi duit kan. Hehe

    BalasHapus
  24. Kadang lapar mata juga saya Mba, untungnya kalau di marketplace cuman masukin ke keranjang aja. Checkoutnya entah kapan. Hehe ... Kalau ke Mall, udah jarang sih kayanya. Paling seneng ke Toko buku lapar mata, liat-liat buku bagus. Kadang yang dibeli cuman satu aja.

    BalasHapus

Bikin acar dari kedondong
Setelah dibaca, minta komennya dong! πŸ˜‰