Hempaskan Virus KDRT Sejak Belum Menikah

by - Februari 07, 2022

pic source: pixabay.com

Viralnya ucapan seseustazah dalam ceramahnya yang membenarkan KDRT dengan dalih jangan membuka aib suami, mau gak mau membangkitkan memori saya ketika pertama kali diajak menikah oleh suami (yang saat itu masih pacar).

Saat ia mengajak saya menikah, rasa bahagia di dalam dada gak bisa diungkapkan dengan kata-kata karena saya memang ingin banget jadi istrinya. Saya sayang padanya dan rasa sayang itu tentu akan lebih afdol diungkapkan bila kami sudah berada dalam ikatan pernikahan.

Namun walau sangat ingin jadi istrinya, alarm dalam diri saya tetap berbunyi. Walau sangat sayang padanya, saya gak boleh bucin "yang mau aja diapa-apain asal bisa bersamanya". Maka saat ia bertanya apakah saya mau nikah dengannya, saya langsung mengajukan beberapa syarat. Bila saja saat itu ia gak menyetujui syarat yang saya ajukan, dengan berat hati terpaksa saya harus menyudahi hubungan kami. Namun syukurlah, ternyata ia menyetujui syarat itu, hahaha đŸ˜ƒ

Saya menganggap syarat yang saya ajukan tersebut sebagai tameng yang akan melindungi saya kelak ketika ia mulai berubah menjadi "lelaki yang gak asyik" lagi. Saya gak mau hidup menderita karena sifat dan tabiat kasar seorang lelaki. Prinsip saya, orang tua yang udah membesarkan dan sangat berjasa pada kehidupan saya aja gak pernah mengasari saya, masa saya harus terima dikasari lelaki asing yang baru saya kenal. Tak sudi akutu, Ferguso! 

Ini 5 syarat yang saya ajukan kepada pacar sebelum akhirnya mantap memutuskan untuk menikah dengannya:

1. Saya gak mau dicemburui

Karena pernah punya pengalaman buruk pacaran dengan lelaki pecemburu, maka saya putuskan untuk gak mau lagi pacaran dengan lelaki cemburuan. Makanya awal pacaran saya kaget banget saat tahu kalo ternyata suami (saat itu masih pacar) adalah lelaki pecemburu. Langsung saya tegaskan padanya bahwa saya gak mau dicemburui. Kalo ia masih tetap ingin melanjutkan hubungan kami, maka rasa cemburunya harus ia kikis sembari perlahan-lahan saya beri pengertian bahwa saya adalah tipe perempuan setia yang gak perlu dicemburui.

Mengapa saya gak mau dengan lelaki pecemburu? Berdasarkan pengalaman saya sebelumnya (dan juga pengalaman beberapa sahabat), lelaki pecemburu biasanya tukang selingkuh. Nah lho! Jadi rasa cemburu yang ia perlihatkan ke pasangannya itu hanya kamuflase atau tipu daya agar pasangannya percaya bahwa si lelaki sangat mencintainya, padahal mah bohong! Itu adalah taktik untuk menyembunyikan perbuatan buruknya. Dan satu hal lagi, lelaki pecemburu, saat sedang cemburu berat, ia sangat bisa melakukan kekerasan. Duh ngeri banget deh! đŸ˜“

Lalu apakah suami berubah menjadi sosok so sweet yang gak cemburuan? Sejauh ini, selama lebih sepuluh tahun menikah hanya sesekali saja ia memperlihatkan rasa cemburunya. Itu juga menurut saya cute karena yang ia cemburui adalah aktor-aktor yang saya gemari, hahaha. Ia gak pernah cemburu pada teman-teman laki-laki saya karena semuanya ia kenal.

2. Saya gak mau diduakan

Punya pengalaman buruk pernah diselingkuhi, membuat saya bertekad untuk mencari laki-laki setia. Makanya saat suami ngajak nikah, saya pastikan sekali lagi (sebelum menerimanya sebagai pacar saya juga udah memastikan dia bukanlah seorang playboy), dia bukanlah tipe pria yang matanya jelalatan alias suka tebar pesona pada banyak wanita. Saya katakan padanya bahwa kelak, saat kami udah menikah dan amit-amit dia terbukti selingkuh, maka saya akan pergi meninggalkannya dengan membawa semua hal yang kami punya termasuk harta dan anak-anak. Alhamdulillah untuk hal yang satu ini kami satu pemikiran karena ternyata ia juga trauma karena pernah diselingkuhi mantannya, hahaha 🤭.

3. Saya gak mau diminta berhenti bekerja (kecuali atas keinginan sendiri)

Sebelum bertemu suami, saya adalah working woman. Makanya saat dia ngajak nikah, saya langsung ngomong bahwa saya gak mau dilarang bekerja. Saya katakan padanya bahwa saya bukanlah wanita yang bisa tenang tinggal di rumah hanya mengurus anak dan suami. Bila ia mencari wanita seperti itu, maka bukan saya orangnya. Silakan cari wanita lain yang sesuai keinginannya. Saya baru akan berhenti bekerja saat saya ingin, bukan karena diminta oleh orang lain, termasuk suami. Alhamdulillah, untuk syarat yang satu ini dia gak keberatan karena ibunya juga seorang wanita pekerja.

4. Saya gak mau dikasari (termasuk di antaranya dibentak)

Saya adalah orang yang gak bisa dengar suara bentakan. Ketika mendengar bentakan (walau bukan saya yang dibentak), seketika tubuh akan gemetar dan lemas karena ketakutan. Makanya lelaki kasar udah saya coret sebagai calon suami idaman. "Apakah kamu pernah dibentak/dikasari oleh pacarmu?" adalah pertanyaan pertama yang selalu diajukan orang tua setiap kali saya cerita sedang dekat dengan seseorang. Lelaki semenarik apapun wajahnya, bila ia ringan tangan dan suka melakukan kekerasan (terutama pada perempuan) akan berubah menjadi hina dina dan buruk rupa di mata saya. 

5. Saya gak mau dipaksa melakukan apapun yang gak saya sukai

Paksaan adalah hal yang paling saya benci, dari mana pun datangnya. Orang terdekat saya udah tahu sifat ini. Makanya lelaki yang gak suka maksa menjadi syarat wajib yang saya pilih sebagai calon suami. Menurut saya, lelaki yang suka maksa punya kans besar melakukan kekerasan pada kita bila keinginannya gak terpenuhi. Sedangkan menjadi seorang istri, pastilah gak selamanya berada dalam mood yang bagus. Ada saatnya istri malas melakukan sesuatu dan pengen leyeh-leyeh manja. Suami yang baik harusnya bisa membaca suasana hati istri, jangan meminta untuk selalu diutamakan dan dipenuhi permintaannya padahal ia gak pernah mengutamakan perasaan pasangannya. Hal ini juga berlaku dalam hubungan intim. Saya gak mau dipaksa bercinta bila sedang gak mood.

Bayangkan, saat kita sedang gak mood dan suami meminta kita untuk melakukan sesuatu. Pasti rasanya tersiksa banget. Please, jangan beri nasehat bahwa mengikuti dan melaksanakan perintah suami adalah jalan menuju surga. Sorry, nasehat ini gak berlaku buat saya, karena bagi saya, lelaki penghuni surga adalah lelaki yang mengerti perasaan pasangannya, bukan lelaki pemaksa! Lelaki yang baik adalah lelaki yang paham bagaimana memperlakukan istrinya.  Lelaki pemaksa? Ke laut aje lu! đŸ‘ŽđŸģ

Tanpa diingatkan, sebenarnya istri udah tahu kewajibannya karena setiap wanita yang memutuskan untuk menikah pasti udah paham kewajiban istri itu apa aja. Kalo pun ingin mengingatkan, harusnya dengan cara lembut, bukan dengan paksaan.

~~~

Itulah 5 syarat yang dulunya saya ajukan pada calon suami sebelum meng-iyakan permintaannya untuk menjadi istrinya. Alhamdulillah, selama menikah, suami gak pernah berlaku sewenang-wenang. Beberapa kali memang terjadi pertengkaran dan salah paham tapi semua bisa diselesaikan dengan baik tanpa kekerasan.

So, menurut saya, sebenarnya KDRT udah bisa kita cegah sejak dini bahkan sebelum menikah. Menetapkan standar yang tinggi untuk calon suami demi mendapatkan kenyamanan lahir batin bukanlah hal yang salah, justru memang itu adalah hal wajib yang semestinya dilakukan wanita. Makanya, keputusan menikah itu harus datang dari pemikiran yang matang, bukan karena tekanan sosial atau takut dengan usia yang semakin menua. Karena salah memilih pasangan, kita yang akan merasakan akibatnya.

Masih menurut saya, dalam pernikahan, posisi suami istri itu setara. Suami bukanlah yang dipertuanagung yang keinginannya harus selalu dituruti sedang istri adalah hamba sahaya yang wajib menyenangkan tuannya. No, gak ada sedikitpun dalam bayangan saya untuk menjadi istri yang seperti itu. Oke, suami sebagai kepala rumah tangga, namun ia gak boleh memperlakukan istrinya secara sewenang-wenang hanya karena merasa namanya ada di urutan atas kartu keluarga. Menikah semestinya adalah untuk membangun rumah tangga yang harmonis, bahagia lahir batin baik untuk suami maupun istri.

So, Ladies, tetapkan standar yang tinggi untuk calon suamimu. Ingatlah bahwa kita punya hak yang sama dengan lelaki dalam hal memilih pasangan terbaik. KDRT sebenarnya sudah bisa kita cegah sejak dini dengan cara memilih pasangan yang tepat. Gak ada salahnya mengajukan syarat (yang sekiranya bisa melindungi diri kita di masa depan) pada calon pasangan. Bila ia memang pasangan yang baik, ia gak akan keberatan dengan semua syarat yang kamu ajukan.

Dan untuk seseustazah yang memberikan ceramah itu, semoga dirinya, keluarganya atau anak-anak perempuannya gak ada yang mengalami kekerasan yaa 😉.

You May Also Like

22 Comments

  1. Beruntung ya mbak bisa punya pemikiran dan standar penilaian setinggi itu! Beruntung banget.. Kareenaaaaa ya karena di luaran sana masih buanyak yang ga punya standar tinggi.

    Sekedar nikah. Sekedar status. Sekedar punya pasangan dan anak. Biar cepat laku ga dikatain banyak orang (terutama sodara yang julid ..hiks)

    Akhirnya yah... Kalo ada kasus kdrt ya mereka juga ngga berani speak up

    BalasHapus
  2. Lengakp deh 5 syarat yang ditetapkan biar aman dari ketimpangan dalam hubungan hak dan kewajiban sebagai suami istri.

    Semoga sakinah mawaddah wa rahmah selalu sepanjang menua bersama ya.

    BalasHapus
  3. Kalau soal kerja sih sebenarnya balik ke tujuan bersama nikah. Kondisi juga yang akhirnya saya disarankan dengan pelan berhenti bekerja karena memang lokasi kerjanya jauh dan harus pisah pulau. Semoga ini bukan termasuk KDRT meskipun awalnya tuh nyesek aja harus berhenti ngajar

    BalasHapus
  4. Setuju sekali mbak, sebenarnya sejak sebelum menikah pun kita bisa mencegah hal ini ya. Harus tegas dan punya rencana matang. Terlalu bucin bikin gak sehat pernikahan. Alhamdulillah saya pun melakukan hal yg sama

    BalasHapus
  5. wah aku dulu pas nikah nggak kepikiran nih bikin syarat begini. padahal penting ya sebelum menikah kita mengajukan berbagai pertanyaan maupun syarat agar setelah menikah pasangan bisa memahami pasangannya

    BalasHapus
  6. Aku pas nikah ga kepikiran syarat2 kayak gini. Kalau boleh tahu bisa menetapkan kayak gini brainstormingnya dari mana? Ortukah? Kelas pranikah kah? Karena ga semua perempuan ngerti hal tsb. Soalnya aku punya 2 anak perempuan jadi mau kusampaikan jugaa ke mereka

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, mbak aku juga dulu pas nikah nggak kepikiran yang beginian. tapi memang kayaknya ada sebagian perempuan yang benar-benar detail dalam hal kriteria calon suaminya jadi yang bikin daftar gitu sebelum pernikahannya

      Hapus
  7. Saya sewaktu nikah ngga pacaran, tapi tetep kenalan sih. Waktu itu ngga ada pikiran bikin syarat ini wkwk. Cuma berdo'a aja. Baru hampir 6 tahun sih sekarang usia pernikahannya dengan 2 anak. Semoga selalu terjaga dari hal-hal buruk aamiin ^^

    Untuk poin bekerja, justru aku kebalikannya mbak wkwk. aku maunya jadi stay at home mom wkwk berkarya dan bekerjanya maunya dari rumah. Jangan dipaksa buat keluar rumah. At the end emang kondisi kita beda-beda ya ^^

    Yang terpenting komunikasi efektif, paham hak kewajiban dan sama-sama "takut Allah". Semoga selalu terjaga hingga syurga.

    BalasHapus
  8. Masha Allah. Bisa banget ini jadi referensi buatku saat ada sese-Adam yang mencoba untuk mendekat ke arah yang serius.

    Sekarang mah aku bakalan mantap kalau ditanyain orang-orang sekitar. Hehehee

    BalasHapus
  9. Harusnya memang begini ya sebelum menikah bikin perjanjian pra-nikah, kalau bisa sekalian medical checkup, untuk menghindari penyesalan di belakang. Syukurlah kalau kita bertemu laki-laki yang cocok dan bisa menghargai kita hihi. Semoga bahagia selalu ya, Mbak.

    BalasHapus
  10. aku juga udah nekenin hal ini nih sama pacar. pokoknya gamau dikasarin apalagi sampai diduain haha. untung dia setuju

    BalasHapus
  11. sepakat, dengan kata lain, jangan terlalu terlena hanya karena cinta semata ya, kak. Soalnya, pernikahan itu realita. Kalau cinta.. banyak syair lagunya! :))

    BalasHapus
  12. Memang sebelum nikah baiknya dibicarakan kalau perlu buat perjanjian ya ... baik soal pekerjaan, anak, dll

    BalasHapus
  13. saya setuju nih kalo sebagai wanita kita harus bisa melindungi diri salah satunya dengan bikin kesepakatan sebelum menikah seperti yang mba Ira buat. Dan kalo bisa hal yang seperti ini disosialisasikan soalnya banyak perempuan yang belum ngeh soal ini. Termasuk saya, saya juga baru ngeh sekarang2 nih

    BalasHapus
  14. ahh iya banget nih, karena aku perasa dan sensitif banget jadi gampang nangis, ditambah dulu pernah dapet pacar yang suka pukul2 barang dan sempet sekali kasar langsung kok langsung terpatri banget ya bayangannya, pelan2 aku juga udah praktikkin tipsnya kamu itu mba, ga mau dikasarin, dibentak, didiemin. Didiemin aja aku bisa kepikiran terus dan ga nyaman :(, silent treatment pun ya ga bagus buat mental health

    BalasHapus
  15. saya setuju nih sebagai wanita kita harus bikin kesepakatan sebagai salah satu bentuk perlindungan diri. dan kayaknya masih banyak kaum perempuan yang belum ngeh soal ini. termasuk saya, saya juga baru ngeh akhir2 ini. thanks for share ya kak. semoga semakin banyak edukasi dan sosialisasi seputar tema perlindungan diri wanita.

    BalasHapus
  16. 5 poinnya jadi ilmu dan masukan buat daku nih mbak Ira, sebelum nanti memutuskan ke jenjang selanjutnya dengan doi. Siip mbak sharingnya

    BalasHapus
  17. Bagus banget tulisannya, buat saya yang mau menikah jadi sedikit banyak paham menjadi seorang pasangan, makasi infonya kak ini membantu saya yang masih banyak belajar

    BalasHapus
  18. Memang terkadang perjanjian pra nikah itu diperlukan untuk mencegah hal hal yang tidak diinginkan ya mbak

    BalasHapus
  19. klo saya sudah 7 tahun menikah, alhamdulillah redam hal ini. kuncinya saling menghargai dan membantu pasangan aja. Semoga terhindari yah dari masalah rumah tangga ini

    BalasHapus
  20. Sebagai anak yang belum menikah, seprtinya aku akan mempertimbangkan untuk membuat perjanjian pra nikah supaya lebih aman antara kedua pihak hehe

    BalasHapus
  21. Jadi inget saat pertama memutuskan untuk menikah, nih Mbak Ira.
    Yang saya lihat pertama kali adalah sikap dia ketika marah, karena bagi saya itu menentukan watak aslinya. Bagaimana cara dia mengelola emosi dan tetap harus berhubungan dengan saya.
    Ternyata dia kalo marah hanya mendiamkan saya paling lama satu hari saja, setelah itu berkomunikasi lagi dan mencari solusi.
    Alhamdulillah, beliau lulus, hehe.

    BalasHapus

Bikin acar dari kedondong
Setelah dibaca, minta komennya dong! 😉