Alasan Saya Memilih Sebagai Working Mom

by - Agustus 15, 2022

pic source: pixabay.com

Belum lama ini ada kehebohan terjadi (lagi, dan untuk kesekian kalinya) di dunia ibu-ibu. Buat yang aktif di medsos, kayaknya udah pada tahu yaa topik apa yang sedang hangat diperbincangkan itu. Yap, gak lain dan gak bukan adalah tentang bekal anak yang akan dibawa ke sekolah. Saya sebagai ibu yang gak bikin bekal buat anak cuman ikutan nyimak dan bengong aja melihat kehebohan ini, hahaha ๐Ÿ˜…

Hmmm, ibu-ibu ini ada-ada aja deh yaa. Semuanya pengen dihebohin, pokoknya kalo gak heboh kok rasanya seperti ada yang kurang gitu loh. Boleh dibilang ibu-ibu adalah makhluk yang memiliki extra power, tenaganya kayak gak habis-habis, adaaaa aja yang di-battle-in, mulai dari working mom vs SAHM (stay at home mom), lahiran sesar vs lahiran normal, ASI vs Sufor, MPASI home made vs instan, mau punya anak vs child free (tapi kalo ini kayaknya bukan cuman ibu-ibu aja yaa) sampe yang terbaru adalah masalah bekal anak ini.

Namun di tulisan ini saya gak bakalan membahas lebih lanjut tentang "kehebohan" yang lumayan sering terjadi di dunia mommy-mommy ini. Sesuai judul, yang akan saya tuliskan adalah beberapa alasan yang mendasari saya memilih dan memutuskan menjadi seorang wanita karir atau ibu yang tetap bekerja kantoran walau udah memiliki anak dan suami.

Jujur aja, di awal perkenalan saya dengan suami (saat itu baru penjajakan), saya langsung ngomong pada beliau bahwa bila kami berjodoh, saya gak mau dilarang bekerja. Saya ingin tetap berkarir dan gak mau dilarang untuk hal ini. Saya tegaskan padanya bahwa, sebelum bertemu dengannya, saya adalah perempuan bekerja, maka saya gak mau berhenti bekerja ketika saya menikah atau setelah punya anak. Saya mau berhenti bekerja bila memang MAU dan itu atas keinginan sendiri bukan karena paksaan darinya.

Baca Juga: 7 Ciri Lelaki yang Tidak Boleh Dijadikan Suami

Berikut beberapa alasan yang mendasari saya memilih sebagai working mom:

๐ŸŒธ Tetap ingin berdaya

Yaa, mungkin bakalan ada yang bilang, perempuan tetap bisa berdaya dari rumah, kok. Big No. Itu gak berlaku buat saya. Kelamaan tinggal di rumah bukan pilihan terbaik buat saya (sampai saat ini). Walau saya seorang introvert, namun kelamaan tinggal di rumah akan membuat saya stres. Saya jadi ingat saat cuti melahirkan anak pertama. 3 bulan di rumah membuat saya stres. hari-hari saya lewati dengan berat sembari menghitung hari kapan bisa masuk kantor lagi. Makanya, demi kesehatan mental saya, saya putuskan untuk tetap berkarir di luar rumah. Bagi saya, rutinitas ke kantor adalah hal menyenangkan. Memakai seragam, gonta ganti outfit dengan tampilan yang rapi adalah hal yang bikin nagih, hehehe ๐Ÿ˜

Baca Juga: Nasehat Buat Adik-adik yang Belum Bertemu Jodohnya

๐ŸŒธ Punya penghasilan sendiri

Sejak usia sekolah, saya udah terbiasa punya penghasilan sendiri. Saat kuliah pun saya juga sambil bekerja (walau gak lama karena bentrok antara jadwal kuliah dan kerja). Saya udah merasakan betapa nikmatnya punya penghasilan sendiri itu. Apapun yang diinginkan bisa langsung didapatkan (kalo mau), tanpa harus nunggu uang pemberian orang tua (saat belum nikah) dan suami (setelah nikah). 

Istri yang punya penghasilan sendiri, saat mau kasih uang ke orang tua rasanya "ringan" karena gak perlu merasa gak enak pada suami (walau saya tahu, suami saya pasti gak bakalan keberatan kalo saya menyisihkan sedikit penghasilannya buat mama saya). Punya penghasilan sendiri juga bikin saya lebih percaya diri.

๐ŸŒธ Gak mau jadi seperti mama

Bila banyak anak perempuan ingin menjadi seperti ibunya, maka saya dengan tegas berkata "saya gak mau jadi seperti mama". Sebenarnya agak berat bagi saya untuk menuliskan alasannya karena ini seperti membuka kamar kenangan yang udah lama tertutup rapat, namun pelan-pelan saya coba untuk menulis poin pentingnya aja.

Mama adalah perempuan yang gak beruntung dalam hal pendidikan. Kesulitan ekonomi memaksa mama harus berhenti sekolah saat kelas IV SD. Mama kemudian menikah dengan papa yang berstatus PNS dan melahirkan 6 anak (1 meninggal dunia). Sayangnya dengan jumlah anak yang lumayan banyak dan jarak lahirnya berdekatan, membuat kedua orang tua kami agak kesulitan membiayai anak-anaknya. Akibatnya, mama yang gak punya penghasilan harus terus mengalah, alih-alih menyisihkan sebagian uang buat kebutuhan pribadinya, yang terjadi adalah gaji papa habis dipakai untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anak-anaknya.

Bagi papa, sesusah apapun keadaan ekonomi keluarga, sekolah anak-anak adalah yang utama. Mungkin karena ini, mama terlihat ikhlas menjalani hidup dalam keterbatasan. Namun saya yang melihatnya merasa gak rela mama hidup seperti itu. Karena itulah, saya bertekad gak mau jadi seperti mama. Saya harus lebih baik dari mama. Dan untuk mencapainya, saya harus kuliah dan bekerja agar punya penghasilan sendiri dan bisa memenuhi segala kebutuhan pribadi tanpa perlu mengharap dari orang lain. Ahh jadi sedih deh menuliskan ini. Jadi kangen sama mama dan baru sadar kalo udah seminggu kami gak telponan. Doaku, semoga mama sehat selalu sehingga anak-anaknya bisa membalas kasih sayang dan pengorbanan beliau. I love you, Mama ❤️❤️

**

Itulah 3 alasan yang mendasari saya memilih menjadi seorang perempuan yang tetap bekerja walau udah nikah dan punya anak. Oh iyaa, tulisan ini adalah opini pribadi saya yaa, gak ada niatan untuk menjelek-jelekkan ataupun menjatuhkan pilihan perempuan lain yang berbeda dengan pilihan saya.

Walau gak mau seperti mama, tapi saya sangat menghargai pilihan perempuan lain yang memilih sebagai stay at home mom, seperti mama. Saya malah kagum pada ibu-ibu yang memilih jalan ini karena saya sadar saya gak akan sanggup menjalaninya. 

Di akhir tulisan ini, saya ingin bilang bahwa apapun pilihan kita, kita harus bangga dengan pilihan itu. Orang lain gak berhak menghakimi pilihan kita. Ladies, pilihan ada di tangan kita!

You May Also Like

16 Comments

  1. Salut sama kekuatan impiannya mbak, iya jangan terbawa arus ya, biarlah yang mau working mom atau stay at home mom, semua ada konsekuensinya kok

    kalo saya memutuskan stay at home but still working he he heee

    alasannya? tepat.
    saya ngga mau menyia-nyiakan talenta yang saya miliki, dan bisa membantu ortu kapan pun saya mau, insya Allah diijabah Allah niat ini,
    selain itu anak anak saya bangga kalo mamanya tetap kerja, so I decide to make them happy!

    BalasHapus
  2. Bisa berdaya secara mandiri, jadi lebih bersamangat ya mbak, apalagi juga pekerjaannya pada bidang yang diaukqi

    BalasHapus
  3. saya pernah berada di persimpangan itu
    dan akhirnya memilih menjadi full ibu rt
    keputusan yang saya sesali kemudia :D

    BalasHapus
  4. Lebih baik jadi diri sendiri ya mbak. Tanpa harus jadi seperti orang lain. Termasuk mama sendiri. Saya pun demikian. Punya prinsip sendiri yang menjadikan saya sekarang lebih mandiri. Sementara mama bergantung pada penghasilan ayah. Alhamdulillah saya bisa berpenghasilan sendiri tanpa harus bergantung sama suami

    BalasHapus
  5. Hello mom.. salam kenal yah.. aku juga seorang ibu pekerja yang dari awal sebelum menikah juga memutuskan tidak boleh dilarang bekerja setelah menikah. Alhamdulillah, walaupun bekerja, suami dan anak tetap diurus dengan baik. Jadi bukan berarti ibu pekerja tidak mengutamakan keluarga ya kan.. semangat terus mom.. baik buruknya keluarga bukan karena istri bekerja/tidak. Itu mah tergantung pribadi masing-masing ya kan..

    BalasHapus
  6. Bekerja atau jadi full time mother memang pilihan ibu sih, gabisa dipaksa karena nanti jadi gak enjoy dan malah stres sendiri ya

    BalasHapus
  7. Salut sama alasan mbak Ira...
    Awalnya saya ingin jadi working mom, seperti Ibu saya. Kemudian setelah jadi Ibu, mendadak saya banting setir keinginannya. Karena teringat dulu saat kecil seringnya saya menghabiskan waktu sama 'mbak' yg ikut Ibu. Saya ngga pengen anak saya punya memori saat kecilnya banyakan sama 'mbak' ketimbang Ibunya haha. Koq ya diijabah sama Allah, ikut suami n tinggal di negara orang. Jadilah saya Ibu RT biasa hihihi.
    But,, terbesit dipikiran (dan masih membara juga) keinginan untuk sekolah lagi n bekerja.. Tunggu anak-anak agak besaran jadi bisa mandiri. Semoga diijabah lagi hihi. Mohon doanyaa xD.

    BalasHapus
  8. Working mom atau stay at home mom semuanya keren dan punya perjuangannya masing2 ya mbak. Aku menghormati semua pilihan yg penting jd ibu hafus bahagia

    BalasHapus
  9. Selama kita nggak menelantarkan keluarga. Rasanya memang sah-sah saja memutuskan untuk menjadi working mom. Karena benar. Ketika bisa berpenghasilan sendiri tu rasanya emang nikmat banget...

    BalasHapus
  10. Iya masing2 punya masa lalu yg mempengaruhi pola pikir ya...seperti saya juga ga mau kayak mama akhirnya waktu hamil berhenti kerja dgn kesadaran sendiri...xixiixi kita kebalikan ya... Tp alasannya sama.... Yg penting semua punya alasan yg bs dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT...apa pun pilihan kita...

    BalasHapus
  11. Butuh alasankuat untuk menentukan pilihan dalam kehidupan ....

    Semoga ibunya sehat selalu ya, Mbak Ira. Pasti beliau bangga dengan putrinya saat ini ^_^

    BalasHapus
  12. Betul, karena kalau sudah terbiasa bekerja, apalagi wirausaha, berhenti dari aktifitas tersebut jadinya bikin "gak nyaman" yah, mbak. Salut dengan kemandiriaanya. Semoga terus diberikan kesehatan.

    BalasHapus
  13. Setiap orang dg pilihan yang. Saya pribadi sebagai IRT full salut sama working mom bisa menyeimbangkan antara kerja dan rumah

    BalasHapus
  14. Saya setuju kalo setiap perempuan pasti punya alasan di balik pilihannya masing2. apakah ingin jadi wanita bekerja ato jadi ibu rumah tangga. kalo saya sendiri memilih untuk jadi IRT yang juga bekerja dari rumah secara online. Dulu ibu saya bekerja dan saya tidak ingin anak saya merasakan hal yang sama, setiap pulang dari sekolah rumah terasa sepi karena tidak ada ibu yang menyambut hehe

    BalasHapus
  15. Mbak i feel you, aq awalnya juga ga mau kayak Mamaku karena Mamaku working mom. Meskipun beliau PNS yang jm 2 udah plg, tapi aku ga dkt secara jiwa dan hati dengan beliau. Makanya saat hamil aku pingin nantinya jadi ibu di rumah yg bisa dekat dengan anak. Tapi ternyata jadi ibu di rumah itu ga udah. Penuh bullyian dr byk orang, insecure, bahkan jadi ga punya teman. Padahal secra ekonomi nafkah dr suamiku lebih dari cukup. Skrg aq bekerja dr rumah, dan ada keinginan kembali bekerja di ranah publik. Doain ya

    BalasHapus
  16. Hai kak Ira. Blognya asyik deh.
    Di satu poin kita sama: tidak ingin seperti mama.
    Bedanya mamaku working mom :).

    Salut Ama ibu pekerja karena pasti capek ya. Pulang kerja masih masak dll.

    Dulu sejak blm nikah daku pengen jadi irt plus freelance dan syukur sejak pandemi malah banyak kerjaan wfh.

    Sehat2 ya Kak.

    BalasHapus

Bikin acar dari kedondong
Setelah dibaca, minta komennya dong! ๐Ÿ˜‰