10 Tahun Lalu, Sekarang & 10 Tahun Kemudian

by - April 28, 2022

pic source: pixabay.com

Hari ini saya mendadak melow karena ditelepon oleh adik yang tinggal nun jauh di seberang lautan sana. Kami ngobrol cukup lama tentang banyak hal. Saking asyiknya kami ngobrol, entah kenapa tiba-tiba kami jadi nostalgia dan mengenang hal-hal yang udah terjadi dalam keluarga kami selama 10 tahun terakhir ini.

Adik saya ngomong, 10 tahun lalu, pada bulan April juga, dia diwisuda. Saat itu papa masih hidup namun beliau dan mama gak bisa mendampinginya di acara yang paling berkesan itu karena papa udah sakit parah dan mama harus menjaganya. Bukan hanya papa yang masih hidup, Iyma (kakak mama yang sangat kami sayangi) juga masih hidup walau kanker payudara yang dideritanya udah menggerogoti tubuhnya, hiks.

Lalu sepanjang percakapan kami, saya mulai gak fokus. Ingatan saya kembali pada masa 10 tahun lalu, yang mana kehidupan saya saat itu sangat berbeda dengan saat ini. Saat itu saya belum lama menjadi seorang ibu, usia pun masih cukup muda. Masih bekerja di sebuah perusahaan pembiayaan dengan status baru diangkat sebagai karyawan tetap. Kehidupan juga masih belum mapan (sekarang pun masih belum mapan sih, namun alhamdulillah kebutuhan sehari-hari gak pernah kekukarangan lagi), masih dihantui dengan pembayaran kredit yang sering nunggak, masih bolak balik tiap hari ke Lakudo-Baubau karena ada bayi mungil yang gak boleh ditinggal lama-lama. Saat itu saya juga belum jadi blogger, hehehe

10 tahun berlalu dan sampailah pada saat ini. Saat di mana hal yang dulu hanya berani diimpikan kini mulai ada yang jadi kenyataan. Juga terjadi banyak hal yang sebelumnya gak terbayangkan sama sekali (bahkan dalam pikiran paling liar sekalipun), entah itu hal menyenangkan atau hal mengerikan yang rasanya gak bakalan sanggup kami jalani (namun ternyata sanggup juga). Intinya, dalam waktu 10 tahun banyak hal terjadi, hal yang 10 tahun lalu ada, kini gak ada lagi, begitupun sebaliknya.

Setelah menutup percakapan dengan adik, hati saya nelongso karena mikirin percakapan kami tadi. Kata-kata adik ini đŸ‘‡đŸģ

siapa yang bisa menjamin 10 tahun ke depan, keluarga kita masih lengkap? Bisa aja, saya, kamu, mama atau saudara-saudara kita yang lain lebih dulu pergi menghadapNYA.

Kalimat adik itu masih terngiang-ngiang di telinga saya. Ya, benar! Siapa yang bisa menjamin berapa usia kita? Huhuhu 😭. Saya hanya bisa berusaha menjaga kesehatan dan meminta padaNya agar mengizinkan saya lebih lama membersamai orang-orang yang saya cintai.

Jika masih sehat, 10 tahun yang akan datang, usia saya udah mencapai 46 tahun sedangkan suami berusia 49 tahun. Anak pertama kami akan berusia 20 tahun, anak kedua 13 tahun dan anak ketiga 11 tahun. Saya gak berani memprediksi apa yang akan terjadi saat itu namun saat ini saya berusaha melakukan yang terbaik agar ketika saat itu tiba, saya siap menerima semuanya.

Duh jadi bingung mau ngelanjutin tulisan ini. Sebenarnya saya masih pengen berandai-andai namun tangan ini rasanya berat untuk menuliskannya. Dan kemudian berpikir, haruskah tulisan ini saya publish? Atau saya biarkan aja mengendap di-draft sembari menunggu mood saya membaik untuk melanjutkannya? Hmm, biarlah saya publish aja deh yaa, nanti kalo udah mood buat ngelanjutin tulisan ini, biar saya buat satu tulisan baru aja, kali aja saat itu suasana hati saya lebih baik jadi bisa menghasilkan tulisan yang lebih ceria dan gak sendu seperti tulisan ini.

You May Also Like

9 Comments

  1. semoga kakak dan keluarga selalu diberi kesehatan yaaa

    BalasHapus
  2. Masya Allah.. renungan yang indah banget mbak
    saya juga jadi teringat memori 10 tahun silam. Siapa sangka dalam tempo 10 tahun saya sudah kehilangan 3 orang terkasih yang sangaaat dekat

    10 tahun dan saya tidak punya bapak, tidak punya anak pertama, dan tidak punya adik :(

    semoga kita menjadi orang-orang yang terus bersyukur ya

    BalasHapus
  3. Aku baca tulisan ini tepat di hari di mana aku pertama kali hidup sekian puluh tahun lalu :)

    Dan aku mendadak merefleksi perjalanan hidupku 10 tahun sebelumnya. Yang mana dalam 10 tahun ini banyak hal yang sudah dilewati, senang, duka, termasuk kehilangan beberapa orang terdekat. Makasih sudah menuliskan ini.

    BalasHapus
  4. Duh duh duh, saya juga kemarin lebaran mudik ke Sumatera, baru berkesempatan ngobrol deeptalk sama adik. Berpikir ke bertahun-tahun yang lalu, dan nggak kerasa saat ini sudah dewasa, obrolan juga lebih ke tentang kehidupan. Tapi manfaatnya kerasa banget, bonding dengan keluarga jadi makin erat.

    BalasHapus
  5. Kadang aku juga mikir gitu sih mbak, kita emang tidak tau perihal umur, yang terpenting kita harus berusaha memberikan yang terbaik untuk orang tua, keluarga, tetangga dan seluruhnya.

    BalasHapus
  6. Emm, kalau membayangkan hal yang belum terjadi tuh memang kerap menimbulkan banyak kekhawatiran. Sedangkan kalau sudah khawatir, biasanya jatuhnya jadi ovt. Akibatnya macem-macem sih yaa.. Biasanya aku suka mendadak badan jadi sakit semua, berat dan mudah ngantuk.

    Jadi aku gak berani berandai-andai untuk 1 menit ke depan, bahkan.
    Tapi kalau goals, aku tulis sih.. biar semakin semangat mewujudkannya dengan doa ataupun ikhtiar maksimal yang bisa kulakukan.

    Semoga sehat, penuh berkah dan bahagia selalu, kak Ira.

    BalasHapus
  7. Duh kalau mengingat 10 tahun kebelakang banyak hal yang sebenarnya ingin kulakukan pada saat itu. Tapi aku selalu bersyukurlah. karena 10 tahun yang lalu yang membuat aku menjadi sekarang ini. Banyak proses yang kudapatkan, pengalaman, wawasan, dan walaupun banyak hal yang mungkin akan hilang dalam perjalanan itu

    BalasHapus
  8. iya nih kita pastinya tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan ya. sebagai manusia, kita cuma bisa berencana namun Allah juga yang menentukan

    BalasHapus
  9. Pembahasan yang relate banget, Kak. Hal-hal yang seperti ini suka bikin galau dadakan kalau kepikiran. Kita ngga tahu apa yang terjadi besok, tapi selagi masih bersama, mari kita bahagia bersama :)

    BalasHapus

Bikin acar dari kedondong
Setelah dibaca, minta komennya dong! 😉