Pungli yang Tak Terduga & Bikin Gemas

by - April 22, 2022

pic source: pixabay.com

Judulnya sungguh bikin geleng-geleng kepala yaa, hahaha 😂. Tapi emang benaran deh, pungli yang dialami adik saya ini benar-benar gak terduga. Jadi jika ada yang bilang "hari gini masih ada pungli?" Hmm, di banyak daerah, pungli memang masih susah dihilangkan. Salah satunya di daerah kami, hahaha *tertawa kecut* đŸ˜Ģ

Kejadian kurang mengenakkan ini dialami oleh adik bungsu saya, pagi tadi. Adik bungsu saya ini insyaallah akan menikah selepas Idul Fitri (3 minggu pasca lebaran). Maka beberapa hari terakhir ia mulai mengurus berkas-berkas untuk keperluan nikahnya. Berkas pertama yang ia siapkan adalah surat pengantar nikah dari kelurahan.

Agar gak menyusahkan staf kelurahan, adik saya berinisiatif membuat sendiri surat pengantarnya dan ke kelurahan hanya untuk minta tanda tangan Lurah. Namun sepertinya ia gak berjodoh dengan Ibu Lurah karena saat adik saya datang, si ibu sedang keluar. Adik saya pun menitip surat tersebut pada staf magang yang ada di situ.

Keesokan harinya, si anak magang menghubungi adik saya, mengabarkan bahawa suratnya belum bisa ditandatangani Ibu Lurah karena ada hal yang harus dijawab adik saya sebelum Ibu bertandatangan. Anak magang itu mengatakan bahwa adik saya harus datang dan bertemu secara langsung dengan Ibu Lurah. Namun saat itu adik saya sedang gak di rumah (fyi, adik saya seorang guru, jadi saat itu ia sedang berada di sekolah dan jarak antara kantor lurah dan sekolah tempatnya mengajar adalah 18 km). Adik saya kemudian meminta tolong pada mama untuk ke kantor kelurahan dan bertemu Ibu Lurah.

Saat bertemu mama, Ibu Lurah bertanya apakah adik saya sudah menerima uang adat (uang adat adalah uang yang diserahkan pihak calon mempelai pria kepada mempelai wanita berdasarkan perhitungan adat). Mama menjawab, IYA. Seketika itu, tanpa malu, Ibu Lurah langsung meminta bagian. Gak tanggung-tanggung ia meminta sebesar Rp. 350.000,-. Karena gak mau ribet, mama pun membayarnya. Namun karena gak membawa uang sebesar itu, mama harus pulang ke rumah mengambil uangnya dan kembali lagi ke kelurahan untuk memberi uang yang diminta oleh Ibu Lurah ba**sat itu. 

Seolah gak puas, si ibu masih juga meminta tambahan. Ia memberitahu mama bahwa mama harus membayar uang untuk surat pengantar nikah yang diambil oleh adik laki-laki saya 2 minggu sebelumnya (kebetulan adik laki-laki saya juga akan menikah seminggu pasca lebaran namun nikahnya di kabupaten yang berbeda dengan tempat tinggal kami saat ini).

Huhuhu, saya geram banget deh mendengarnya saat diceritakan adik saya. Saking geramnya, dalam hati saya berdoa, semoga ibu itu akan menjadi pengemis untuk selamanya, ckckck.

Ibu Lurah ini adalah contoh pemimpin yang gak amanah. Ia memanfaatkan jabatannya untuk kepentingan pribadi. Bayangin aja, saat zaman udah berubah, revolusi mental udah digaungkan kemana-mana, tanpa malu ia masih melakukan pungli yang ia samarkan sebagai uang adat yang harus diserahkan ke kelurahan. What? Sejak kapan orang kelurahan berhak meminta uang adat dari calon mempelai yang akan menikah? Mintanya pake acara maksa pula. Ckckck, pejabat tapi mental pengemis 😠. Maaf gaes, saya terlalu marah pada hal ini.

Adik saya benar-benar gak ikhlas mengeluarkan uang Rp. 350.000,- untuk selembar surat pengantar, namun mama menasehatinya untuk mengikhlaskan semuanya. Duh, mama, tahu gak sih, berat banget harus mengikhlaskan semua itu. Seharusnya, mereka adalah pelayan masyarakat yang gak boleh melakukan pungutan liar kepada masyarakat karena melayani masyarakat adalah tugas mereka. Negara sudah membayar mereka untuk itu!

Saya berharap, semoga adik saya adalah orang terakhir yang mengalami kejadian buruk ini. Semoga gak ada lagi calon penganten yang digituin sama oknum lurah saat mereka meminta surat pengantar nikah dari kelurahan. 

You May Also Like

9 Comments

  1. Beneran bikin kesal banget sih, masih saja ada orang-orang yang memanfaatkan jabatan yang sedang ia emban dengan menjadikannya sebagai lahan untuk melakukan pemalakan. Wah benar-benar nggak ada rasa malu sama diri sendiri ya. Padahal harta itu selanjutnya akan dimankan oleh anak-anaknya, oleh keluarganya. Akan menjadi darah dan daging dalam tubuh setiap anggota keluarga yang menikmatinya, dan menetap terus, memberi pengaruh pada jalan hidup dan karakter mereka. Dana haram bukannya seringnya begitu ya, Kak?

    BalasHapus
  2. Setuju banget dengan 'sangat marah'nya. Saya generasi boomers, tapi alhamdulillah dimampukan buat tegas menolak pungli. Kebetulan, kalau di kampung saya ada staf yang berani bilang tak ada biaya apapun untuk surat menyurat yang dibutuhkan warga di kelurahan.
    Mudah2an sang ibu lurah segera diganti dan kena batunya satu hari nanti.

    BalasHapus
  3. Sangat banyak pungli begitu terjadi dan bikin kita geleng2 kepala melihatnya ya Mbak terutama kasusnya ini terjadi di lembaga pemerintah dan masyarakat.. Pastinya akan makin kesel karena keluarga atau org sekitar kita yg kena, benar2 deh. Memang sifat amanah dan sifat2 baik lainnya ini mesti diaplikasikan terkhusus buat yg berkeinginan menjadi pemimpin nantinya

    BalasHapus
  4. Saya bisa mengerti kekesalan adik Mbak. Karena mengurus pernikahan sudah ribet, ditambah pungli seperti ini. Uang seperti itu dihasilkan dr keterpaksaan. Tentu ngga amanah jika dipakai. Semoga ada jalan keluar ya Mba

    BalasHapus
  5. Pungli ini bagaikan aturan tak tertulis di tatanan sistem di Indonesia sih yaa..
    Mau nikah, bikin akte anak, dan beberapa urusan yang ada kaitannya dengan surat pengantar, selalu mendadak ditodong sana sini agar dipenuhinya sejumlah biaya.

    Padahal mah ada tulisannya lo kalau semua urusan GRATIS.
    Miris banget yaa..

    BalasHapus
  6. Ah iya mbak beberapa tempat bahkan ada pungli alias pungutan liar dari orang-orang disekitarnya
    Paling sering itu saat mengurus ke beberapa instansi pemerintah

    BalasHapus
  7. Korupsi kecil2an yang jarang banget ketahuan. Harusnya di laporin atasannya aja tuh lurahnya

    BalasHapus
  8. Wahhh semoga gak terjadi di orang lain yaa, emang bikin kesel banget kalau ada yang seperti itu.. Syukurlah dibeberapa instansi sekarang sudah mulai berkurang, dan di saya sendiri blum pernah merasakan yang harus mengeluarkan uang sebesar itu

    BalasHapus
  9. sering terjadi id bengkel tempat aku kerja, kmrn ntah brp kali masuk proposal ga jelas malah

    BalasHapus

Bikin acar dari kedondong
Setelah dibaca, minta komennya dong! 😉